Suatu saat saya marah dan sebel dengan suami saya. saya kira kondisi ini pernah terjadi pada hampir semua yang bergelar istri. biasanya suami saya akan melempar pertanyaan penegasan :" Dek, kamu sedang marah ya sama mas ?"
saya menjawab :" iya" sambil menganggukkan kepala
nah, setiap kali saya marah atau sebel maka yang sering dilakukan suami saya adalah DIAM. ya DIAM. karena kata suami saya ini adalah pilihan terbaik daripada harus meneruskan cekcok. suami saya akan memilih asyik dengan aktivitas yang lain , seperti membaca buku atau ’bercengkrama’ dengan komputer. suami saya menunggu sampai semua reda dan saya dapat diajak bicara. sekali lagi, suami saya berpikir inilah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. benarkah ?
ketahuilah para suami, pikiran itu tidaklah benar. jujur saya sebagai seorang istri tidak suka dengan gaya demikian. dengan merajuk saya berkata pada suami saya :" kok, ade didiamkan."
"loh, kan sedang marah dan sebel !"
"ya , tapi jangan didiamkan begitu ." kata saya .. didekati saja, disayang sayang."
suami saya tertawa mendengar apa yang saya ucapkan. kata nya : ANEH.
* (Catatan dari suami : tapi tawa saya sekaligus menegaskan bahwa saya belum mengerti dan memahami istri saya. bahkan , sekedar bagaimana menanggapi ketika dia sedang marah sekalipun. untungnya istri saya bersedia memberitahu)
salah satu cara kalian untuk melanggengkan cinta kalian adalah melakukan pengenalan secara utuh terhadap sisi terdalam wanitanya. sebab istri kalian adalah orang yang paling dekat dengan kalian. jangan dibiarkan kedekatan yang kalian jalin sekedar kedekatan fisik, tetapi terasa tidak berkarib dalam emosi dan kejiwaan
kalian tidak terlalu utuh mengenal pola ekspresi wajahnya. kalian terlalu gagap memaknai diksi yang dilontarkannya. kalian sangat "rabun" menangkap bahasa dibalik sorot matanya. kalian bahkan memiliki sisi lemah untuk merasakan getaran jiwanya, dan merabai keinginan keingannya. kalau demikian pengetahuan kalian terhadap istri, rasanya kalian harus mengaku malu, untuk mengatakan kepadanya ,"sayang, aku adalah orang terdekat yang kau miliki."
seorang istri pernah bercerita, bagaimana ia merasa sebel ketika suaminya tidak mengetahui bahwa ia sedang marah. sang suami tetap biasa biasa saja dan baru mengetahui ketika istrinya berkata :" bi, aku ini sendang marah !" Oo, sedang marah, to ? maaf ya aku nggak ngerti."
kisah diatas benar2 terjadi dan sang suami (jelas jelas) sama sama aktivis dakwah.
lagi - lagi kita akan terpesona membaca pengenalan Rasulullah terhadap istrinya, Aisyah. suatu ketika beliau berkata kepada Humaira, Aisyah.
" Wahai Aisyah, aku tahu kapan kamu ridha dan kapan kamu sedang marah kepadaku !"
"bagaimana engkau mengetahuinya, Wahai Rasulullah ?"
" Jika kamu sedang ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan : Ya Rasulullah ! tapi , jika kamu sedang marah kepadaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan : Ya, Muhammad !"
Begitulah Rasulullah mengenali istrinya. dalam situasi jiwa yang berbeda akan ditemukan diksi atau pilihan kata yang berbeda pula. Subhanallah, bagaimana halnya dengan kalian ? bahkan, sekedar mengetahui kalau istri kalian sedang marah saja, sinyal sinyal kejiwaan kalian tidak terlalu tajam.
memang membutuhkan waktu yang tidak pendek, tetapi harus ada keinginan kuat untuk mengenali sisi terdalam istri istri kalian. Agar komunikasi tetap lancar dan tidak tercipta kesalahan prasangka, hanya karena pengetahuan kalian yang dangkal dalam mengenali kekasih kalian, istri kalian. sebab, masing masing orang yang memiliki model ekspresi yang berbeda untuk situasi kejiwaan yang (hampir) sama. maka, jangan buru buru menyamakan istri kalian dengan kalian dalam mengekspresikan situasi kejiwaanya.
pada saat istri tengah terbaring dalam lelap gelap malam, tataplah wajahnya. mungkin ada lelah. tangkaplah pula senyum ketulusan yang melamatkan sketsa kelelahannya. rasakan getaran jiwanya bersama tarikan nafasnya yang tenang; lalu , tanyakan dalam diri kalian sudahkah antara kau dan aku tidak lagi terbentang hijab ?
*** didalam gelap malam, diantara ku tersadar dan tidak suamiku membisikan ditelingaku : dek, beri mas waktu untuk merasai sisi terdalam hati wanitamu.........
Bandung, in memoriam
segenggam rindu untuk suamiku......
saudariku.... jika engkau istri yang shalihah takkan kau biarkan sejumputpun barang haram masuk ketubuhmu, tubuh anak anakmu dan tubuh suami yang setiap malam berdekat lekat denganmu.
saudariku... jika engkau istri yang shalihah engkau takkan rela ada api menjilat kulitmu yang halus dan cantik kelak di neraka Allah, menjilat kulit anak anakmu yang lembut, dan menjilat kulit suamimu yang liat dan macho itu.
saudariku.... jika engkau istri yang shalihah, tentu berpuasa lebih baik bagimu daripada ngemil kerikil neraka.
Saudariku... jika engkau istri yang shalihah, jangna ijinkan suamimu tertuntut untuk mengais -ngais yang haram diantara sampah dunia.
saudariku.... jika engkau istri yang shalihah, engkau akan menyemangatinya dengan Allah, dan bukan dengan mengatakan :" kapan sih kamu bisa membahagiakan isteri !"
saudariku... jika engkau istri yang shalihah, yang akan kau katakan ketika suamimu berangkat adalah :" selamat berjuang suamiku tercinta, ya habiballah. segala kelelahanmu bekerja menjemput yang halal dari-Nya, akan dibalas Allah dengan pijatan lembut di syurga. disanalah kita menikmati setiap jerih payah. pergilah dengan ridha Allah dan pulanglah dengan barakah-Nya. kami dirumah lebih ridha berlapar lapar dengan perut dililit batu. kami Insya Allah kuat untuk itu. yang kami tidak mampu adalah didihan bara neraka, minuman panas membakar, buah zaqqum yang menggidikkan, darah, nanah, dan segala siksa yang tiada akhirnya....."
saudariku.... jika engkau istri yang shalihah, yang akan kau katakan ketia suamimu pulang adalah :" jujurlah pada Allah sayang.. cintaku.... darimana kau jemput ini semua ? dari syurgakah , hingga kelak kita akan bersama menikmati yang lebih banyak disana ? jika tidak, kembalikanlah. sungguh rumah reyot kita terlalu berharga untuk dimasuki barang hina meski emas, perak dan berlian bentuknya....
"aku dan anak - anakmu memang menghajatkan rizqi Allah. tapi hanya yang halal. aku dan anak anakmu menghajatkan banyak kebutuhan. tetapi kami lebih mencintai keberkahan. Qarun telah terbenam, Fir’aun telah tenggelam. bumi dan langit tidak menangisi mereka. tetapi adalah harapan kita berdua, untuk menemui Rasulullah ditelaganya. kelak segala kehausan sirna jika kita diberi minum olehnya."
Bersemangatlah suamiku, cintaku..... untuk menjemput barakahnya. Doa kami bersamamu...
Bandung,
in memoriam...... terimakasih ya Allah walau hanya 11 bulan kumendampingi suamiku
masih terasa lekat disini, dihati ini akan kelembutannya, ketawadhuannya, kesabarannya
cintanya, kasih sayang dan penghargaannya pada seorang istri yang baru belajar tuk menjadi sholehah
Uhhibuka lillah mas, tuk semua kenangan yang terindah
disampingmu tak pernah kurasakan sedikitpun kesedihan
karena berada disampingmu hanya manisnya iman kurasakan
semoga Allah mempertemukan kita kembali disyurga-Nya...
Malam sudah mendekati pagi, ketika hati ini masih menolak untuk disalahkan, walau merasa sangat bersalah. Baru beberapa menit sebelumnya mengakhiri perbincangan yang tidak mengenakkan dengan suami.
Suami tercinta yang meminta semua ini. Meminta agar saya terbuka, menceritakan apa yang disembunyikan di dalam hati (Ah seharusnya tanpa dimintapun aku harus terbuka, bukan?), yang pada mulanya telah saya tolak. Karena saya sangat yakin, jika saya mengungkapkan semuanya, bisa mengakibatkan dia terluka. Saya tidak ingin melukainya, karena saya mencintainya. Amat mencintainya. Selalu… selamanya…
Namun karena dia telah berjanji tidak akan mempermasalahkannya, akhirnya saya menceritakannya. Dan ternyata benar. Kami sama-sama terluka. Semoga Allah mengampuni kami, dan dia memaafkanku.
Diam-diam bathin ini merangkai kata, membentuk kalimat,
Cantik, anggun, menawan, mempesona, cerdas, kaya, berhati jahiliyah, berakhlak buruk.
Jelek/sedang (kan relative), miskin, tidak cukup cerdas, beriman, taat, shaliha, berakhlak baik.
Jelek/sedang (lagi-lagi relative) miskin, tidak cukup cerdas, berhati jahiliyah, tidak mengindahkan aturan Islam, berakhlak buruk.
Pilihan hanya tiga di atas. Karena yang, cantik, anggun, menawan, mempesona, shaliha, berakhlak baik, stoknya tidak selalu ada. Kalaupun ada, sudah keduluan orang lain. Kamu berada di posisi yang mana Ida?
Tidak sedikit pria beriman yang akhirnya memilih wanita kedua, karena ia memandang keimanan dan ketaatan si akhwat. Bukan rupa wajahnya, karena ia menyadari bahwa nilai kecantikan seorang wanita bukan terletak pada kecantikan rupanya. Melainkan pada akhlaknya. Jika akhlaknya bagus, insya Allah, dialah yang akan mampu diajak untuk menjalani biduk rumah tangga sakinah, mawadah, warohmah. Seperti yang didambakannya.
Wanita yang rupa wajahnya cantik memang akan mudah sekali dikenali pada saat pertama berjumpa. Namun, kecantikan yang terpancar dari aura keimanan wanita yang wajahnya tidak seberuntung wanita cantik, kadang baru akan bisa dikenali setelah beberapa waktu berdekatan. Dan ini tentu tidak akan merugikan ikhwan yang telah memilihnya untuk mendampingi perjuangannya. Karena sungguh, wanita dengan wajah tidak cantik namun shaliha, insya Allah akan lebih unggul dibanding wanita yang cantik namun berhati jahiliyah.
Lantas bagaimana dengan wanita yang tidak cantik namun berakhlak buruk? Berhati jahiliyah? Apalagi jika ketahuannya setelah dinikahi. Betapa malang yang menjadi suaminya! Dan fakta semacam ini banyak sekali terjadi di sekitar kita. Bahkan bisa jadi kita sendiri orangnya. Naudzubillah. Semoga tidak.
Saya kembali bertanya, apa yang ada pada dirimu, Ida? Mengapa kamu sampai hati berfikir yang bukan-bukan pada suamimu (LDL sering membuat pikiran ini berfikir buruk)? Jika kamu berusaha mentaatinya dalam rangka taat kepada Allah, maka, nilai kamu pada posisi yang kedua. Tapi jika kamu melakukan kebalikannya, maka kamu berada di posisi ke tiga. Betapa buruk dirimu!
Tanya itu masih bersambung, Ada berapa banyak di dunia ini wanita yang seperti ini?
Cantik tidak, kaya tidak, karir tiada, ilmu belum ada, menjadi shalihapun hanya pura-pura. Bagaimanalah ini?
Semula orang terpikat karena tampak kasalihahannya, tapi ternyata judesnya melebihi wanita-wanita jahiliyah? Apa yang bisa didapat seorang suami dari wanita semacam ini? Tekanan? Betapa kejam. Terakhir, jangan salahkan jika akhirnya para ikhwan memutuskan untuk memilih wanita yang cantik. Toh memilih yang jelekpun tetap tidak menghargai perintah agama!
Bisa jadi wanita cantik yang berakhlak buruk itu masih bisa dituntun ke jalan-Nya, untuk berbenah. Lha kalau wanita yang sudah tahu namun tidak menjalani? Bisa jadi sulit mengarahkannya. Wallahua’lam…
Intinya, untuk teman-teman muslimah yang saya cintai, jika antum merasa wajah tidak cantik. Percantiklah dirimu dengan akhlaqul karimah, agar kelak antum tidak mengecewakan suami antum. Semoga kelak menjadi para bidadari-bidadari surga di firdaus-Nya…
Semakin mendekatlah kepada-Nya. Saya sadar benar, akhir-akhir ini, saya memang merasa sangat jauh dengan Allah. Saya telah menjauh dari-Nya. Jarang mengaji, jarang qiyamul lail, sehingga sangat layak jika Allah, sering menegur dengan mendatangkan ujian-Nya. Dari penyakit yang nggak hilang-hilang. Hingga masalah-masalah kecil yang akhirnya menjadi besar. dan saya sadar semua adalah kelalaian saya pribadi.
Ida Raihan
Cheung Sha Wan- Hongkong
sumber : muslimdaily.net
Bandung, kisah ini sangat menyentakku.... ainul mardhiyah.. diposisi manakah dirimu ? mungkin diriku diposisi yang ketiga. betapa buruknya dirimu wahai ainul mardhiyah.......
disisa sisa potongan waktu, disela sela desau angin
ku coba tuk berdiri kembali , mencoba bangkit di atas keruntuhan sebuah pena yang terluka
ya Allah.... ijinkanku kembali pada-Mu.....
(read more ...)
iman adalah mata yang terbuka,
mendahului datangnya cahaya
tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
lalu rasakan hangatnya keajaiban
Saya tertakjub membaca kisah ini; bahwa Sang Nabi hari itu berdoa.
Di padang Badr yang tandus dan kering, semak durinya yang memerah dan langitnya yang cerah, sesaat kesunyian mendesing. Dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh ‘aqidah. Dan mereka tahu inilah hari furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebathilan. Ini hari penentuan akankah keberwujudan mereka berlanjut.
Doa itulah yang mencenungkan saya. “Ya Allah”, lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya, dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.
Andai boleh lancang, saya menyebutnya doa yang mengancam. Dan Abu Bakr, lelaki dengan iman tanpa retak itu punya kalimat yang jauh lebih santun untuk menggambarkan perasaan saya. “Sudahlah Ya Rasulallah”, bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janjiNya padamu!”
Doa itu telah menerbitkan sejuta tanya di hati saya. Ringkasnya; mengapa begitu bunyinya? Tetapi kemudian, saya membaca lagi dengan sama takjubnya pinta Ibrahim, kekasih Allah itu. “Tunjukkan padaku duhai Rabbi, bagaimana Kau hidupkan yang mati!”, begitu katanya. Ah ya.. Saya menangkap getar yang sama. Saya menangkap nada yang serupa. Itu iman. Itu iman yang gelisah.
Entah mengapa, para peyakin sejati justru selalu menyisakan ruang di hatinya untuk bertanya, atau menagih. Mungkin saja itu bagian dari sisi manusiawi mereka. Atau mungkin justru, itu untuk membedakan iman mereka yang suci dari hawa nafsu yang dicarikan pembenaran. Untuk membedakan keyakinan mereka yang menghunjam dari kepercayaan yang bulat namun tanpa pijakan.
Kita tahu, di Badr hari itu, Abu Jahl juga berdoa. Dengan kuda perkasanya, dengan mata menantangnya, dengan suara lantangnya, dan telunjuk yang mengacung ke langit dia berseru, “Ya Allah, jika yang dibawa Muhammad memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dari langit dengan batu!” Berbeda dari Sang Nabi, kalimat doanya begitu bulat, utuh, dan pejal. Tak menyisakan sedikitpun ruang untuk bertanya. Dan dia lebih rela binasa daripada mengakui bahwa kebenaran ada di pihak lawan.
Itukah keyakinan yang sempurna? Bukan. Itu justru kenaïfan. Naif sekali.
Mari bedakan kedua hal ini. Yakin dan naïf. Bahwa dua manusia yang dijamin sebagai teladan terbaik oleh Al Quran memiliki keyakinan yang menghunjam dalam hati, dan keyakinan itu justru sangat manusiawi. Sementara kenaifan telah diajarkan Iblis; untuk menilai sesuatu dari asal penciptaan lalu penilaian itu menghalangi ketaatan pada PenciptaNya. Atau seperti Abu Jahl; rela binasa daripada mengakui kebenaran tak di pihaknya. Atau seperti Khawarij yang diperangi ‘Ali; selalu bicara dengan ayat-ayat suci, tapi lisan dan tangan menyakiti dan menganiaya muslim lain tanpa henti. Khawarij yang selalu berteriak, “Hukum itu hanya milik Allah!”, sekedar untuk menghalangi kaum muslimin berdamai lagi dan mengupayakan kemashlahatan yang lebih besar. Mencita-citakan tegaknya Din, memisahkan diri di Harura dari kumpulan besar muslimin, dan merasa bahwa segala masalah akan selesai dengan kalimat-kalimat. Itu naïf.
Dan beginilah kehidupan para peyakin sejati; tak hanya satu saat dalam kehidupannya, Ibrahim sebagai ayah dan suami, Rasul dan Nabi, harus mengalami pertarungan batin yang sengit. Saat ia diminta meninggalkan isteri dan anaknya berulang kali dia ditanya Hajar mengapa. Dan dia hanya terdiam, menghela nafas panjang, sembari memejamkan mata. Juga ketika dia harus menyembelih Isma’il. Siapa yang bisa meredam kemanusiaannya, kebapakannya, juga rasa sayang dan cintanya pada sesibir tulang yang dinanti dengan berpuluh tahun menghitung hari.
Dan dia memejamkan mata. Lagi-lagi memejamkan mata.
Yang dialami para peyakin sejati agaknya adalah sebuah keterhijaban akan masa depan. Mereka tak tahu apa sesudah itu. Yang mereka tahu saat ini bahwa ada perintah Ilahi untuk begini. Dan iman mereka selalu mengiang-ngiangkan satu kaidah suci, “Jika ini perintah Ilahi, Dia takkan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kami.” Lalu mereka bertindak. Mereka padukan tekad untuk taat dengan rasa hati yang kadang masih berat. Mereka satukan keberanian melangkah dengan gelora jiwa yang bertanya-tanya.
Perpaduan itu membuat mereka memejamkan mata. Ya, memejamkan mata.
Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi. Mereka harus bersikap di tengah keterhijaban akan masa depan. Cahaya itu belum datang, atau justru terlalu menyilaukan. Tapi mereka harus mengerjakan perintahNya. Seperti Nuh harus membuat kapal, seperti Ibrahim harus menyembelih Isma’il, seperti Musa harus menghadapi Fir’aun dengan lisan gagap dan dosa membunuh, seperti Muhammad dan para sahabatnya harus mengayunkan pedang-pedang mereka pada kerabat yang terikat darah namun terpisah oleh ‘aqidah.
Para pengemban da’wah, jika ada perintahNya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan padaNya jua kita akan pulang…
salim a. fillah –www.fillah.co.cc-
(read more ...)



