Membangun Sekolah di Rumah

Ruang Keluarga (Rumah tangga) 1 Comment

ABUL ASWAD AD-DUALI berkata kepada anaknya :" Wahai anakku, aku telah berbuat baik kepadamu sejak kalian kecil hingga dewasa bahkan sejak kalian belum lahir."
"sejak kami belum lahir ?"
"iya, " Jawab Abul Aswad
"Bagaimana caranya, Ayahanda ?"
"Mmh, Ayah telah memilihkan untuk kalian seorang wanita terbaik diantara sekian banyak wanita. Ayah pilihkan untuk kalian seorang ibu yang pengasih dan pendidik yang baik untuk anak-anaknya."

PESAN RABBANI dalam firman Allah :" Perliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusai dan batu." (QS At-Tahrim ; 16), mengajarkan kepada kita akan pentingnya pendidikan didalam keluarga. Ali bin Abi Thalib mengatakan :" Ajari mereka dan didiklah mereka". Keluarga pada akhirnya menjadi sekolah utama dalam kerja pewarisan Islam

Sebagaimana kisah Abul Aswad Ad-Dhuali diatas, Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid didalam bukunya Manhaj At-Tarbiyyah An Nabawiyyah lit-thifl menjelaskan bahwa faktor tak kalah penting yang membantu seorang ayah mendidik anaknya adalah keberadaan seorang istri, perhatian seorang lelaki terhadap generasi penerusnya, semestinya telah dimulai sejak memilih istri. Ia tidak sekedar menuruti keinginan dirinya, tetapi juga berorientasi untuk memilihkan guru bagi anak-anaknya.

Disinilah cita - cita peradaban itu dimulai, yaitu sejak seorang laki - laki memilih pasangan hidupnya. Menentukan siapa istrinya, sekaligus menetapkan calon pendidik bagi putra putrinya. sejak saat itu seorang lelaki semestinya telah membuat design untuk membangun sebuah sekolah didalam rumah.

itulah sebabnya, Abul Hasan Al-Mawardi beranggapan bahwa memilih istri merupakan hak anak atas ayahnya. Umar bin Khathab mengatakan :" Hak seorang anak yang pertama - tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. yaitu, seorang wanita yang memiliki kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak baik, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna, serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan."

Didalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi mengatakan :" pilihlah tempat yang baik untuk menyemaikan nutfah kalian, nikahilah wanita wanita yang seimbang dan nikahkanlah wanita - wanita itu dengan mereka."

hmmm... saya merasakan inilah tanggung jawab pertama kalian sebagai suami ; memilih secara tepat istri kalian. namun, saya juga menyadari bahwa kerja ini tidak berhenti sampai disini. kerja berikutnya yang tidak kalah penting adalah kerja pemeliharaan, penumbuhan, serta penyiapan. jadi, tanggung jawab kalian, sebagai suami, tidak berhenti sebatas memberi nafkah. ada peran lain yang harus dimainkan sejak dini, bahkan sejak sebelum kewajiban memberi nafkah ditetapkan.

Memelihara, menumbuhkan serta menyiapkan istri kalian untuk dapat menjadi seorang ibu dan guru bagi anak-anak harus mendapatkan prioritas. kalian tidak hanya memilih istri yang memiliki pesona potensi luar biasa. pesona potensi itu harus dapat kalian pelihara an kalian tumbuhkan agar tidak redup ditengah jalan, terlebih ketika telah menikah dengan kalian. suami perlu meningkatkan kapasitas dan kemampuan istri. agar ia memiliki bekal untuk menyukseskan perannya sebagai seorang pendidik.

Ada sebuah kisah inspiratif dari seorang ustadz. untuk meningkatkan kemampuan istrinya dalam mengurus keluarga, sang ustadz tanpa segan segan mengikutkan istrinya kursus membordir dan menyulam. ketika ditanya alasannya, ustadz itu menjawab :" saya takut seandainya nanti diakherat ditanya Allah : apa yang sudah kau lakukan untuk istrimu ?

begitulah kiranya kita mengawali pembentukan keluarga kita. mereka yang dirundung cinta semestinya memperhatikan pula tumbuh kembang buah cinta mereka nantinya. mereka tidak melupakan kerja kerja pewarisan dari sebuah keluarga muslim.

saya pernah mendapat kiriman sebuah sajak dari seorang ikhwan lewat email. sajak ini lukisan tentang pikiran nya terhadap seorang wanita yang nantinya akan menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Kasihku, Ibu dari anak anakku....
ajari mereka bersahabat dengan kehidupan
agar tak menjadi asing ditanah kelahiran
yang mafhum meminta dan menangisi dunia
tapi gagah bekerja dan membelai sesama
ajari anak-anak kita merabai dirinya
agar mereka merasakan kebesaran yang maha segala
bahwa mereka lahir untuk masa depan
dan untuk memuaskan kita

begitu pentingnya mempersiapkan tempat persemaian benih generasi kalian, sekaligus guru bagi anak-anak kalian, sampai sampai Rasulullah membenarkan pandangan Jabir bin Abdullah yang memilih seorang janda menjadi istrinya, hanya karena satu alasan : kerja - kerja pendidikan. ketika jabir mengabarkan kepada Rasulullah bahwa dirinya telah menikah, Rasul lalu bertanya kepadanya :
"jabir, kamu menikah dengan gadis atau janda ?"
"dengan seorang janda ya Rasulullah."
"kenapa tidak pilih yang masih gadis. dengannya kamu bisa mengajaknya bergurau, begitu pula ia bisa bergurau denganmu."
Jabir memiliki alasan yang perlu untuk kita renungkan. sebuah alasan yang inspiratif dan visioner, tetapi sekaligus realistis.
"Ya Rasulullah, orang tuaku telah meninggal, sedangkan aku memiliki banyak saudari yang masih kecil. itulah sebabnya , saya tidak memilih menikah dengan gadis, yang usianya seperti mereka. aku khawatir istriku tidak bisa mendidik mereka dan tidak bisa mengurus mereka. akhirnya, saya memilih menikahi seorang janda dengan berharap ia bisa mengurus dan mendidik saudari saudariku yang masih kecil.

saudaraku ... kaum muslimin , para calon suami, para calon ayah... persiapkan lah madrasah keluarga kalian sejak dini...didalam buaian seorang wanita bisa menghasilkan bara yang menguncang dunia.....

Bandung,
mentari itu telah bersinar...
tiada redup tiada panas
hanya ada seberkas kilatan
tuk buktikan
tuk hancurkan
peradaban yang tak berkias......

(read more ...)

Membersamai Kelahiran

Ruang Keluarga (Rumah tangga) 0 Comment

MELAHIRKAN merupakan momentum perjuangan yang tidak ringan bagi istri. Ia memeras energi, sekaligus memungkinkan untuk menggadaikan nyawa untuk sebuah generasi. Namun, ia juga menjadi titik awal ketika suami harus menambah perannya. Peran sebagai seorang ayah. Ayah, kata itu seakan menyimpan harapan yang menghujam sangat dalam pada diri kelaki-lakian. di balik kata itujuga, terdapat tanggung jawab yang besar.

kata itu menyuguhkan perasaan bangga dan bahagia, sekaligus meneguhkan kedirian kalian sebagai laki - laki. ia bagaikan padang sabana hijau yang membentang luas dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi. Menjadikan jiwa kalian para suami lapang dan pandangan kalian para suami tajam menatap masa depan. Saat itulah kalian harus mulai memikirkan masa depan sebuah generasi yang lahir dari rahim kekasih kalian. Kasih sayang, perhatian, tanggung jawab dan juga pendidikan bagi anak menjadi bahasa yang akan meneguhkan makna cinta kalian.

saat menjelang kelahiran adalah saat ketika kalian para suami perlu memperkuat dan menunjukkan makna kebersamaan dengan istri, karena ia merupakan momentum perjuangan yang tidak ringan. inilah awal ketika tanggung jawab terhadap sebuah generasi dimulai. tanggung jawab yang tidak sekedar dimiliki seorang istri. kebersamaan dalam cinta adalah bahasa yang selalu diharapkan dalam nafas pernikahan.

Menunggu istri saat persalinan bukanlah barang sederhana, yang bisa dinafikan. Sungguh, anak merupakan anugerah terindah yang diberikan Allah kepada kita. Ia menjadi harapan setiap orang yang telah menikah. tidak jarang tetes air mata harus mengalir membersamai setiap lantunan doa, agar Allah ta ala menganugerahi seorang anak. Itulah yang dapat kita rekam dari kehidupan Nabi Zakariya a.s. Usianya yang merangkak senja telah menumbuhkan uban dikepala, merapuhkan tulang - tulangnya, dan melemahkan tenaganya. Padahal, belum juga Allah menganugerahi anak kepadanya. kerinduan untuk memiliki seorang anak semakin menggelora.Maka, bersama kesunyian malam, Nabi Zakariya tiada henti untuk berdoa :" Ya Tuhanku, sesungguhnya tulang - tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku."

Karena anak merupakan anugerah dari Allah ta ala maka selayaknya kalian para suami perlu menyambutnya dengan penuh kesyukuran. kehadiran kalian untuk berdekat dekat dengan istri saat persalinan adalah penerimaan yang tulus, yang selayaknya kalian berikan. Penerimaan terhadap kelahiran anak kalian. anak yang lahir dari rahim kekasih kalian. inilah bahasa pengungkapan yang perlu di tunjukkan.

Tidak sekedar itu saja wahai suami membersamai istri saat persalinan ternyata membawa efek psikologis yang besar bagi istri kalian. dukungan suami saat bersalin sangat diperlukan agar istri bisa lebih kuat, nyaman dan percaya diri ketika bersalin. terlebih ketika istri merasa panik dan kesakitan. lalu apa efek yang bisa muncul bagi kalian para suami ? peristiwa kelahiran akan menanamkan perasaan untuk lebih menghargai dan menyayangi istri kalian. setiap detik dari perjuangannya terekam kuat dalam ingatan kalian para suami. pengorbanannya terasa tak ternilai oleh apapun yang kalian berikan kepadanya sebagai pengganti.

Sodaraku....
cinta harus dibahasakan. salah satunya dengan memberikan dukungan kepada istri saat bersalin. memberikan kata - kata motivasi, doa dan sentuhan fisik akan meredakan kepanikannya. disinilah seorang suami harus mampu mengendalikan emosinya. kalian para suami perlu belajar untuk kuat dan tidak menjadi lebih panik dibanding kekasih kalian. mungkin ada keharuan ketika menyaksikan istri yang sedang berjuang untuk melahirkan anak kalian, berpelu peluh dan menguras tenaga. mungkin ada rasa khawatir yang membuncah saat mengetahui istri berpayah payah , tapi tetap saja kalian harus belajar tenang.

Sodaraku.....
membersamai istri saat persalinan akan mengurangi depresi pasca persalinan (Post partum depression) atau baby blues. ada kalanya ibu sehabis melahirkan dilanda perasaan sedih dan murung. kelahiran menuntut ibu menyesuaikan diri dengan situasi baru. ia harus mengurus anak, serta harus tetap mengurus pekerjaan rumah tangga. semua itu akan menyita pikiran dan energinya, hingga dapat memicu emosi dan stres. terlebih ketika makna kebersamaan itu tidak terlihat diberikan suaminya sejak detik detik awal persalinan. Padahal, banyak penelitian menjelaskan bahwa depresi yang dialami ibu sangat mempengaruhi bayi.

saya kutipkan pendapat dari Dr. I Akman dari Marmara University Medical School, Istambul Turki dalam laporan hasil risetnya di Archives of Diseases in childhood (download) mei 2006, menyimpulkan bahwa depresi pada ibu yang baru melahirkan akan menghambat terjalinnya ikatan batin (bonding) yang kuat dengan bayinya. kondisi ini akan menyebabkan terjadinya kolik (Sejenis gangguan pencernaan).

Penjelasan dr. Akman diatas memberikan gambaran tidak langsung tentang peranan yang harus dimainkan seorang suami kepada istrinya saat menjalani persalinan, yaitu menciptakan rasa tenang dan aman bagi istri.

Penelitian lain nya dilakukan oleh Dr.Myna M.Wissman bersama timnya dari colombia university, New york. Ia meneliti selama 20 tahun dan menemukan bahwa depresi yang menimpa orang tua bisa menulari anak, bahkan hingga mereka dewasa kelak. 101 orang tua, ketika salah satu atau keduanya mengalami depresi, ternyata menyebabkan anak anak mereka beresiko menderita depresi tiga kali lipat dibanding anak anak yang orang tuanya tidak depresi. selain itu, mereka juga beresiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, serta beresiko dua kali lebih besar menderita gangguan fungsi otot dan saraf serta kesulitan dalam bersosialisasi.
*******
Subhanallah..... menunggui istri saat persalinan bukanlah barang sederhana, yang bisa diabaikan begitu saja. berawal dari kebersamaan itu, kalian tengah menyiapkan sebuah generasi yang kuat, tegar dan sehat. generasi yang menatap masa depannya dengan cerah, karena diawal ia menghirup udara segar dunia, ia disambut dengan penerimaan yang tulus.penerimaan yang menciptakan ikatan batin secara lekat. kalau ada kebersamaan antara suami istri yang memuat makna kepahlawanan lebih, mungkin ia adalah kebersamaan selama persalinan.


bandung......
diujung gelap kucoba urai kata demi kata
agar serunai malam tak lagi pekat
disela tangis manusia pemula
menyambut dunia yang kian fana.........

(read more ...)

Saat suami harus menjadi pendamping

Ruang Keluarga (Rumah tangga) 1 Comment

 

Seorang suami bercerita :" saya harus menemani istri untuk pergi kedokter spesialis kandungan. periksa rutin,kehamilan istri telah memasuki bulan kedelapan. ketegangan meliputi wajahnya. Ia cemas sebab pada pemeriksaan 2 minggu sebelumnya dokter menyatakan bahwa anak mereka termasuk kecil untuk masa kehamilannya (beratnya kurang dari normal)

 

kekhawatiran terasa menekan bapak muda itu. Ia cemas jika periksa kali ini tidak bisa mencapai target berat badan bayi seperti yang seharusnya. ketika mereka telah mendapat giliran dan istri di USG , alhamdulillah, ternyata berat badan bayi telah naik seperti yang ditargetkan. hanya saja detak jantung bayi saat itu berpacu cepat.

"mbak, anti sedang panik, ya ?" tanya dokter . sang istri hanya mengulum senyum dan mengaku kalau ia cemas dengan berat badan bayi yang tidak naik.
"sudahlah santai saja, tidak usah dipikir. perhatikan saja asupan gizinya. InsyaAllah , waktunya masih cukup."
"kalau ibunya stress, biasanya detak jantung bayi menjadi lebih cepat. bayi terpengaruh menjadi stress juga." tambah dokter tersebut.

Saat itu saya berpikir keras , apa hubungan antara stress yang dialami sang ibu dengan bayi yang dikandungnya ? saya belum menemukan hubungannya secara jelas. sampai akhirnya saya membaca didalam surat Al-Hajj ; 2 saya tertegun. "Ingatlah pada hari ketika kamu melihat (guncangan itu) semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya..." kedahsyatan hari kiamat sanggup menggugurkan janin dalam rahim. akan tetapi kenapa bisa seperti itu ? panik. jika benar maka persoalannya adalah psikologis.

hmm... ketika saya bertemu dengan seorang teman yang istrinya baru saja keguguran, saya sampaikan ayat itu kepadanya.beberapa bulan sebelum keguguran, mereka berdua pernah jatuh dari motor. namun, setelah kasus itu, tidak ada plek atau pendarahan. biasa saja, setelah beberapa bulan kemudian istrinya keguguran. saya menduga penyebabnya adalah emosi si ibu." mungkin ada persoalan psikologis yang menyebabkan sebagaimana disebut Al Qur an, meski tidak semua begitu. kata saya

"bener ukhti, katanya sambil mengingat sesuatu. Beberapa hari sebelum istri keguguran kami bertengkar. Istri marah hebat dan ternyata sering begitu, bahkan, dia pernah mengatakan :" ya sudah digugurkan saja kandungan ini !"

situasi kejiwaan ibu ternyata sangat mempengaruhi kondisi bayi didalam rahim. kesimpulan itulah yang saya peroleh dari serangkaian pengalaman dan cerita dari teman2.

didalam sebuah artikel saya menemukan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan saya selama ini. artikel tersebut menjelaskan bahwa ada sejumlah hormon progesteron. hormon ini berfungsi membangun lapisan didinding rahim untuk menyangga plasenta, mencegah kontraksi atau pengerutan otot-otot rahim sehingga mencegah keguguran atau persalinan dini.

********

sebuah penelitian di jerman yang dilakukan perta Arck dan kawan kawan, ditemukan bahwa secara tidak langsung stress menekan prodiksi hormon progesteron. kesimpulan bahwa stres dapat menjadi penyebab keguguran setidaknya didapat dari hasil penelitian terhadap tikus. kalau pada tikus - tikus yang sedang hamil ini diberikan suara suara keras atau pemicu stres dalam bentuk lain, maka tikus tikus tadi akan mengalami ketidak stabilan hormon. ketidak stabilan inilah yang dapat mengubah sistem kekebalan pada janin karena disaat stress tubuh akan mengeluarkan hormon stress yang disebut kortisol.

Peningkatan kortisol dalam aliran darah akan menekan produksi progesteron. Arck dan kawan kawan telah memantau 864 wanita hamil. ia mengambil sampel darah untuk melihat tingkat stress masing masing wanita yang tengah berbadan dua itu. hasilnya, 55 wanita hamil yang mengalami keguguran ternyata lebih sering mengalami stres dibanding ibu hamil lainnya yang tidak begitu banyak menghadapi stres

hmmm... ternyata ada kerja cinta lainnya buat suami ketika istri sedang hamil, kerja untuk memberikan pendampingan prima kepadanya. pendampingan yang tidak sekedar fisik, tetapi juga kejiwaan. kerja pendampingan ini merupakan bagian dari proyek regenerasi. istri membutuhkan perhatian istimewa, dorongan dan motivasi tiada henti. sekaligus ketulusan utuh dalam seluruh kerja - kerja pendampingan itu.
kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa kondisi kejiwaan istri ketika hamil sangatlah mempengaruhi perkembangan janin didalam rahim. secara mengerikan, barangkali dapat dikatakan bahwa menciptakan rasa tenang istri sekaligus memberikan support motivasi kepadanya, ternyata terkait erat dengan urusan nyawa sebuah generasi ; generasi kita sendiri; anak anak kita, ia juga mempengaruhi kualitas emosi anak dan tingkat perkembanganya.

Anak adalah anugerah terindah dari Allah yang patut untuk disyukuri sekaligus dijaga. Allah mendatangkan kebahagiaan dengan lahirnya anak dari seorang istri. " Allah menjadikan bagimu istri - istri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri - istrimu itu, anak - anak dan cucu cucu ...." (Qs. An-Nahl; 72).

Sejak awal kita harus menjaganya, agar anak kita tiak tumbuh menjadi dzurruyyatun dhi aafan (generasi yang lemah) (QS. An-Nissa ; 9)

sembari kalian para suami memberikan pendampingan prima pada istri, topanglah ia dengan lantunan doa yang selalu terkirim bersama sujud kalian :" Rabbi habli minladunka dzurriyyatan thayyibatan, innaka samii ud du aa " (ya Rabbku, berilah aku disisi-Mu anak yang baik, sungguh Engkau Maha Pendengar doa) (Qs. Ali Imran ; 38)
aminnnn...

bandung......
disisi sudut ruang hati................

(read more ...)

Saat - saat kehamilan

Ruang Keluarga (Rumah tangga) 5 Comment

mari saudara saudaraku  kita simak penuturan seorang suami yang mendampingi istrinya dikala hamil............
Istri saya terbaring lemas disamping ketika saya melaksanakan sholat. padangan mata saya mulai tidak jelas dan berkaca-kaca. dengan sekuat tenaga saya pejamkan mata, berharap ada yang bisa ditahan. tapi terlambat. bayangan ibu saya datang silih berganti. mengalir bersama air mata yang menetes dari sudut mata.
Wajah cantik istri saya yang mendadak berubah pucat berkelindan dengan wajah ibu saya yang mulai keriput, beruban dan tua. Saya teringat saat ibu saya berubah biru wajahnya, menahan sakit akibat maag akut yang dideritanya. saya membayangkan saat ibu saya,yang perempuan desa dan tidak mengenal konsultasi dokter spesialis kandungan itu, menghadapi kehamilan ketika mengandung saya....

saya mengenang diri saya yang jarang pulang, menyambangi ibu-ayah saya didesa . Dan saat inilah perasaan durhaka itu menyeruak hadir membayangi saya, saya takut. rasanya aktivitas saya dalam dakwah tidak memiliki bobot makna yang berarti tatkala mengenangi ibu. Sungguh, saya kembali merasakan kerinduan yang sangat pada ibu, ketika harus membersamai istri saya yang mengalami morning sickness.

hmmm.. mendengar cerita teman Saya jadi teringat pada perintah Allah ta’ala untuk berbuat baik kepada ibunya. Alasannya jelas, beliau yang telah mengandung dalam keadaan lemah, melahirkan dan menyusui :" Dan perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya ; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah - tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (QS.Luqman ;14)

selain perasaan itu lanjutnya terus terang saja, saya ikut dibuat panik dengan kehamilan pertama istri saya Istri mengalami tanda tanda kehamilan ketika usia pernikahan kami memasuki semester pertama. skami merasa bersyukur ketika istri melakukan test kehamilan yang hasilnya kami lihat bersama ; positif hamil. Dua garis merah dapat kami lihat dengan jelas pada pagi itu. Alhamdulillah. kami sama-sama bersyukur Lalu, beberapa hari kemudian, istri mengalami morning sickness.

Rasa mual dan muntah yang dirasakannya seakan saya rasakan juga. Aneh, dan saya tidak dapat menemukan akar sebabnya. lanjutnya. luar biasa. rasa itu tidak saja terjadi pada pagi hari, tetapi sepanjang waktu

hmm.. mungkin mengalami hiperemesis gravidarum (frekuensi dan lamanya mual muntah terjadi secara berlebihan) dan ini emang wajar terjadi pada trisemester awal kehamilan.

Ketika ditanya masalah itu jawaban sang istri :" Wonderfull, Mas !" hmmm........

lanjutnya...... saya putuskan untuk tidak i’tikaf, padahal kami sudah merencakan untuk itu. saya harus mendampingi istri, membantu kebutuhan nya dan (yang terpenting) memberi motivasi dan mengawal situasi kejiwaannya.

ya memang disaat seperti itu seorang istri sangat membutuhkan kehadiran suaminya disamping. karena pada saat saat itu sang istri membutuhan sentuhan cinta yang lebih, perhatian yang terakomodasi, dan pendamping yang intens.

sodara-sodaraku..... kenapa harus mendampingi istri ? selain gembira dan bersyukur atas terjadinya kehamilan, terselip juga rasa cemas terutama bagi ibu-ibu yang baru pertama kali hamil. ia harus menghadapi beberapa perubahan dalam dirinya. peran suami adalah membersamai istri untuk siap menghadapi kegelisahan secara psikologis. bukankah suami adalah orang terdekat yang dimiliki sang istri ?

Sejumlah penelitian, konon menjelaskan bahwa kurangnya dukungan dari suami selama kehamilan merupakan faktor yang paling sering menimbulkan post-partum blues atau kesedihan pasca persalinan. Ah, Wallahu a’lam (itu teori yang pernah saya baca)

hmm... jadi teringat kembali pada hadist Rasulullah :" sebaik -baik kamu adalah yang paling baik dalam bergaul dengan istrinya, dan aku adalah yang paling baik diantara kamu dalam bergaul dengan istri." (HR.Tirmidzi)

Mendampingi istri, jika dilakukan secara ikhlas, insya Allah, jauh lebih ringan daripada keadaan istri kita ketika hamil. dimana, setiap istri merasa mual muntah, yang katanya sangat wonderfull itu, ia akan merintih kesakitan. maka untuk para suami, dekatilah istri kalian, usaplah perutnya. mungkin emang tidak banyak membantu untuk mengurangi rasa mual itu, tapi dari sisi psikologis menimbulkan motivasi bagi sang istri tuk tegar dan sabar menjalani masa - masa itu karena sang istri tidak sendiri merasakannya ada kalian suaminya menemani disampingnya. membersamai masa itu. membersamai kehadiran buah hati yang dinanti... bersama sama....

ucapkan kalimat kalimat dan kata kata santun tuk meredahkan emosi sang istri ketika sakit mulai terasa. misalnya nih.... hmmmm..... "Sayang, daripada mengaduh lebih baik ucapkan kalimat thayyibbah. mungkin akan lebih baik bagi perkembangan psikologis janin kita ." subhanallah.... dengan sedikit perkataan itu insya Allah sang istri akan merasakan manisnya sebuah proses kehamilan.... menikmati saat saat sakit pada trisemester pertama, menikmati dan merasakan perkembangan janin, mulai dari detak jantung, gerakan gerakan kecil sampai pada tahap komunikasi 2 arah antara janin dan orang tuanya. melalui sentuhan sentuhan dan ucapan ucapan lembut. masa masa kehamilan adalah masa dimana kita bertafakur akan karunia dan kebesaran sang Illahi. juga merupakan masa masa muhasabah mengenang kembali saat saat ibu kita mengandung kita , menahan sakit ketika melahirkan kita.... subhanallah.. disaat saat itu banyak yang bisa kita petik dan rasakan. insya Allah............

jadi teringat sepenggal sajak dari WS Rendra berjudul Sajak seorang Tua untuk istrinya.
Suka dan duka kita bukanlah istimewa...
karena setiap orang mengalaminya.....
ya .. setiap pasangan suami istri pasti mengalaminya.... tinggal sekarang gimana tiap pasangan memaknainya.
ya.. saat saat kehamilan istri adalah masa ketika para suami belajar merasakan hakikat diri sebagai seorang anak dan suami sekaligus.....

untuk para suami.... persiapan diri.... dampingin istri.. jadilah suami SIAGA........ oke.. oke....

bandung, .....................
coretan kecil disudut ruang dari seorang hamba Allah yang baru belajar tuk memberikan yang terbaik dari sedikit goresan pena yang terbuang.....

(read more ...)

Persiapan menjadi ayah

Ruang Keluarga (Rumah tangga) 1 Comment

Pernah dengar kisah ini gaaaaaa....???? jika belum saya akan mengisahkan untuk teman teman. Glenn Doman pernah bercerita tentang seorang ibu yang bertanya kepada ahli perkembangan anak. pertanyaannya sederhana, yaitu kapan ia harus mulai mendidik anaknya.

"kira - kira kapan anak ibu akan lahir ? ahli itu bertanya dengan antusias.
"Oh, anak saya telah berusia lima tahun sekarang," jawab ibu itu
"cepatlah pulang, bu !"
"kenapa ?" tanya si ibu dengan penuh keheranan
"ibu telah menyia - nyiakan lima tahun terbaik dari hidup anak ibu."
hmmm.... kisah diatas sedekar potongan peristiwa tentang urgensi pendidik anak sejak dini, bahkan menurut saya sejak bayi, yang tidak boleh diabaikan kedua orang tuanya. Wallahu a alam.

ketika menceritakan semua ini kepada seorang teman yang saat ini sedang menanti kehadiran sang buah hati, dia berkomentar.... tiba tiba perasaan untuk menyiapkan kematangan anak muncul begitu saja ketika dia harus mendampingi istrinya, saat hamil pertama. memang, saat ini usia kehamilan istrinya belum seberapa baru memasuki trisemester pertama, kurang lebih baru enam minggu. masa ini merupakan masa organogenesis atau pembentukan organ bayi.

Keinginan untuk menyiapkan kematangan bayi, sekaligus mengawal perkembangan organnya, muncul tatkala istri mengalami hiperemesis gravidarum (mual muntah terjadi secara berlebihan). Istri selalu mengeluh merasakan mual muntah. tidak sekedar itu, ia juga menjadi malas untuk makan. Dalam situasi seperti itu, saya jadi berpikir, istri harus didampingi. harus ada suport motivasi dan dukungan psikologis. Mungkin ini pekerjaan semua lelaki pada awal-awal kehamilan istrinya; menjadi suami untuk istrinya dan belajar sebagai ayah untuk (calon) bayinya.

emesis gravidarum atau mual muntah yang secara natural dialami istri saat hamil, seakan menjadi wasilah (sarana) pembelajaran bagi para suami. ia menyebabkan terjadinya dua keadaan sekaligus, yaitu kegelisahan psikologis dan kelemahan fisik. kegelisahan psikologis sering muncul dalam kalimat kalimat negatif, seperti keluhan, marah, atau letupan letupan emosional. sementara itu, kelemahan fisik muncul akibat berkurangnya nafsu makan istri. akibat lebih jauh, sebenarnya adalah terbatasnya asupan gizi bagi janin. kondisi seperti ini jelas akan berakibat bagi perkembangan janin. Wallahu a alam.

saat seperti inilah, para suami merasakan kemuliaan islam untuk menjaga kehidupan anak. kesadaran inilah yang akhirnya para suami temukan sepanjang menyaksikan perkembangan istri. Subhanallah, dalam banyak tempat islam menegaskan persoalan ini.

"Sesungguhnya rugilah orang - orang yang membunuh anak - anak mereka karena kebodohan tanpa pengetahuan....... (QS. Al-An am ; 140). atau seperti diperingatkan Allah ta ala dalam firman-Nya :" Hendaklah takut kepada Allah, orang - orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak - anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar." (QS An-Nisa;9)

begitu jelas Alquran men-tarbiyah kita agar tidak meninggalkan dzurriyyatan dhi aafan (generasi yang lemah). Sebuah kesadaran tentang pendidikan anak sejak dini yang luar biasa. artinya, secara psikologis dan fisiologis penyiapan perkembangan janin harus mendapat perhatian.

Melalui istri, para suami sedang ditarbiyah untuk menjadi suami yang lebih dekat dengannya, sekaligus sebagai ayah yang memperhatikan perkembangan janin. ketika Al-quran mengatakan agar orang tua bertakwa (falyattaqullaha), itu artinya calon orang tua harus menyiapkan kematangan spiritualitas secara prima. sementara itu, ketika Al-quran menganjurkan para orang tua untuk mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadida), para suami tersadar untuk menasehati istri agar tidak banyak mengeluh dan mengganti keluhan - keluhan itu dengan kalimat - kalimat thayyibah. tentunya, nasehat itu juga ditujukan untuk para suami. dalam hal inilah, peran pendampingan terhadap istri menemukan titik temunya. Wallahu a lam.

"saya hanya berpikir agar anak kami nantinya tidak menjadi pribadi yang cengeng yang suka mengeluh, karena sejak dalam kandungan, kami orang tuanya mengajarinya untuk itu. saya juga tidak menghendaki anak saya hidup dengan menihilkan ketulusan dan keikhlasan, karena ayahnya juga melakukan hal yang sama ; menjagai ibunya dengan perasaan tertekan dan penuh beban. Saya tidak memimpikan anak saya menjadi reaksioner dan mudah marah, karena kami ajari dia sejak dalam rahim perkataan -perkataan emosional dan sarat kemungkaran." demikian ungkap teman saya.... hmmmm....

sungguh, para suami sedang diajari dan dipersiapkan untuk menjadi AYAH. sebutan yang sekaligus mengandung sejumlah makna ; cinta dan tanggung jawab, kasih sayang dan pengorbanan, perhatian dan ketulusan, yang selama ini hanya para suami lontarkan melalui lisan kepada istri, kini para suami harus belajar untuk membuktikannya.... (hayo.. hayo.. para suami buktikannnnn.... )

pada saat seperti inilah, para suami mengharapkan intervensi dari kekuasaan Allah ta�ala yang tiada terbatas dan bersekat. sebagaimana Nabi Ibrahim as berdoa :" ya Rabb, aku memohon agar keturunanku senantiasa mendirikan shalat, agar mereka dicintai dan agar mereka diberi rezeki yang halal, mudah mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim ; 37) . Allahumma amiin.

(read more ...)

Bait Untuk Sahabat

puisi 1 Comment

Hari itu datang lagi,
Bahtera kasih siap terbina,
Menjadi bumbung tiga sahabat berjanji,
Bersatu demi janjiNya,
Berpisah demi kasihNya,
Hari itu datang lagi,
Bahtera kasih terus berlayar,
Samudera itu saksi ukhuwwah terus mekar,
Teguh menghadapi badai dengan tegar,
Hari itu datang lagi,
Bahtera kasih terus sepi,
Ada hati yang tergores,
Ada cinta yang tergilis,
Ada janji yang teriris,
Tanpa sadar,
Hari itu datang lagi,
Hati yang terluka kembali bertaut,
Janji yang terlerai
Kembali termetrai,
Namun,
ketika hari itu datang di saat ini,
Ia tidak seperti yang di ingini,
Penyatuan ini menuntut Pengorbanan,
Kasih ini terpaksa disimpan,
Agar ia tidak merobekkan sebuah perjalanan,
Kerana ia milik Allah,
Akarnya Aqidah pada Allah,
Bumbungnya Qalam dari Allah,
Tiangnya addeen Allah bersendi cinta Allah..
Di hari ini,
Madrasah itu
kan kembali kita susuri,
Menjadi sirah kehidupan milik kita sendiri,
Menjadi sandaran kepada memori ini,
Karena saat ini pasti tidakkan kembali lagi..
Sahabat berbahagialah kalian...
Kita tak
kan terpisah Karena kita punya memori ini,
Tugu cinta insani demi ridha Illahi Rabbi…..

(read more ...)

Lembaran Hidup Wanita Sholehah

ruang muslimah 4 Comment

Mampukah aku menjadi seperti ibunda Khadijah
Agung cintanya kepada Allah dan Rasulullah
hartanya diperjuangkan kejalan fisabilillah
penawar hati kekasih Allah
susah dan senang rela bersama.......

mampukah kudidik jiwa seperti Aisyah ...
Istri Rasulullah yang bijak
pendorong kesusahan dan penderitaan
tiada sukar untuk dilaksanakan

mengalir air mataku melihat pengorbanan puteri Rasulullah Siti Fatimah
akur dalam setiap perintah, taat dengan abuyanya
yang senantiasa berjuang
tiada memiliki harta dunia
layaknya dia sebagai wanita penghulu syurga

ketika aku marah, ingin kuintip serpihan sabar dari catatan hidup siti Sarah....

tabah jiwaku, setabah umi nabi Ismail
mengendong bayinya yang masih merah
mencari air penghilang dahaga
diterik padang pasir merah
ditinggalkan suami akur tanpa bantah
pengharapannya hanya pada Allah
itulah Wanita bernama Siti Hajar

mampukah aku menjadi wanita Sholehah ?
mati dalam keunggulan iman
bersinar harum tersebar
bagai wanginya pusara masyitoh......

(read more ...)

pertanyaan sang bulan

puisi 3 Comment

Bila mana cinta yang datang retak oleh satu kesalahan…
Bilamana retakan itu tak bisa diperbaiki lagi
Sang bulan bertanya….
lelaki datang atas nama suami
Cinta datang atas nama hati
Sang bulan bertanya….
Bagaimana dengan retakannya…
Bagaimana memperbaikinya…..
Sang bulan menjawab….
Raga, sukma ini tak berhenti sampai maut datang
Raga, sukma ini tak berhenti sampai Sang Arjuna membuka tangan
Sang bulan berdoa….
Ya Allah sinarilah jalanku pertahankan keluargaku ini….
Ya Allah dengan dosa yang telah kami buat berilah kami jalan ntuk tebus segala dosa….karena kami tahu Kau Maha Segalanya….
Apakah Sang bulan penuh dengan dosa ini salah bila sang bulan mempertahankan cintanya.
Karena cintanya tulus kepada suaminya demi Allah

 

(read more ...)

Karena aku bukan perempuan biasa

ruang muslimah 7 Comment

Termangu, kata seolah terkunci mati tak terucapkan, hanya tatap yang tersisa... nanar.... tak bisa menatap pasti... ada segumpal rasa haru menyesak disini.. didada ini.......

Hari itu kusaksikan lagi seorang perempuan perkasa, pengarung hidup penuh cabik dan luka, namun anehnya, dia tersenyum, cantik, teramat cantik, yang aku sendiri tak berani membayangkan masih sanggup tersenyum tulus di sela duka-derita yang menderanya selama pernikahannya. Subhanallah, apa lagi skenario yang Allah hibahkan kepadaku, melalui perjumpaan dengan dia? Sungguh tanda tanya besar, maha besar...

"Menurut logika akal sehat, semestinya aku sudah mati bertahun lampau teh, atau paling tidak, setengah gila, dihadapkan pada perkawinan semacam ini."

Ya, bagaimana tidak, dia menaruh harapan teramat banyak pada suaminya, tatkala menikah dengannya. Manusia kelas atas, level ustad,  tentu tidak salah dia memiliki angan-angan perkawinan yang sempurna, mendekati sempurna. Tapi ternyata hanya asa semu semata yang terpampang di hadapannya, pahit sepahit empedu, karena perlakuan suami yang tidak bisa bersikap adil terhadapnya sebagai istri kedua.

Bahagiakah dia? Bahagiakah dengan perkawinan nya ?   Ternyata pahit  yang harus dicecapnya, entah untuk berapa tahun ke depan... Banyak aib suami yang ditutupinya, banyak luka yang ditaburkan dihatinya. banyak ketak adilan yang dirasakannya atas sikap suaminya.  Tapi mengapa dia memilih untuk bertahan, mengapa??

Ada tanya di hati, jika cinta bisa membuat seorang perempuan bertahan pada satu lelaki, mengapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

"Aku sadar teh, aku membuat kekeliruan. Kekeliruan terbesar dalam hidupku, yaitu aku terlalu menggantungkan harapanku pada manusia, dan aku terjerembab. makanya Allah marah, marah besar kepadaku, sehingga Dia berikan aku cobaan sebegitu besar. Dari kejadian ini aku merenung, jangan pernah kita berharap pada manusia, karena manusia takkan pernah sempurna. Kekeliruanku yang lain adalah perasaan memiliki, padahal itu tidak boleh, karena sepatutnya tiada satupun makhluk-Nya saling memiliki, hanya sebatas menjaga amanah, bertanggung jawab. Melalui perenungan itu aku bersyukur, Dia juga teramat sayang, kurasakan sekali kasih sayang-Nya, masih mau  Allah membuka pintu hatiku. Meski buat mata manusia mungkin perlakuan suamiku tidak adil  untukku  sebagai istri kedua ku tak mau menyerah  pada manusia teh, biarlah aku menyerah pada takdir-Nya. Aku ingin ridha, ikhlas betul menerima apapun, apapun takdir-Nya, apakah nasibku akan terus terkatung-katung seperti ini, atau berakhir dengan kebahagiaan, wallahu alam..."

Indah nian kata-katanya, berisi. Hanya berharap kepada Allah, benar-benar hanya bergantung asa dan impian kepada-Nya, tanpa kecuali, tanpa pesaing, Dia dan hanya Dia. Dan katanya, hari-harinya berjalan dengan ringan, penuh rasa syukur, meski kalau mau diturutkan nafsi-nafsi manusia, katanya, dendam bisa teramat sangat membara, namun alhamdulillah, bisa pupus sirna oleh ingatan akan janji-janji Allah yang maha pasti, tentang surga, tentang sungai-sungai yang mengalir, sungai susu, sungai madu, dan haqqul yakin ditepati, tanpa syarat... Tanpa terasa, mata ini semakin basah, penuh beranak sungai.

Duh Allah, selayaknya dialah sang terpilih, bukan  suaminya yang digelari ustad oleh segerombolan manusia. Bagaimana bisa seorang ustad, guru yang dielu-elu, seorang yang sudah melalui proses proses tarbiyah  cukup lama  mampu melupakan sepotong hadits Rasulullah, bahwa sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik dalam memperlakukan istri?

Aku tahu jawabannya, dia terpilih karena dia mulia di hadapan-Mu, karena dia yakin bahwa "dirinya bukan perempuan biasa..."

Astaghfirullah... Astaghfirullah...
Alhamdulillah, puja-puji hanya layak, teramat layak hanya dialamatkan kepada-Nya, yang telah cermat menyusun potongan hidupku bersua dengannya, seorang perempuan luar biasa...

Terimakasih ukhti.... dari mu ku belajar banyak hal.

----

(read more ...)

Karena Kau Tulang Rusukku.....

muhasabah 5 Comment

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku!

Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati."

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.

Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, "Kamu nggak cinta lagi sama aku!"

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.

Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.

Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing."

Lima tahun berlalu.

Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.

Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu
nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
"Good bye...."

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal"

sumber : Motivasi-net

(read more ...)