Karena Kau tak cantik, maafkan aku jika terpaksa pilih dia

curhat 2 Comment

Malam sudah mendekati pagi, ketika hati ini masih menolak untuk disalahkan, walau merasa sangat bersalah. Baru beberapa menit sebelumnya mengakhiri perbincangan yang tidak mengenakkan dengan suami.

Suami tercinta yang meminta semua ini. Meminta agar saya terbuka, menceritakan apa yang disembunyikan di dalam hati (Ah seharusnya tanpa dimintapun aku harus terbuka, bukan?), yang pada mulanya telah saya tolak. Karena saya sangat yakin, jika saya mengungkapkan semuanya, bisa mengakibatkan dia terluka. Saya tidak ingin melukainya, karena saya mencintainya. Amat mencintainya. Selalu… selamanya…

Namun karena dia telah berjanji tidak akan mempermasalahkannya, akhirnya saya menceritakannya. Dan ternyata benar. Kami sama-sama terluka. Semoga Allah mengampuni kami, dan dia memaafkanku.

Diam-diam bathin ini merangkai kata, membentuk kalimat,

Cantik, anggun, menawan, mempesona, cerdas, kaya, berhati jahiliyah, berakhlak buruk.
Jelek/sedang (kan relative), miskin, tidak cukup cerdas, beriman, taat, shaliha, berakhlak baik.
Jelek/sedang (lagi-lagi relative) miskin, tidak cukup cerdas, berhati jahiliyah, tidak mengindahkan aturan Islam, berakhlak buruk.

Pilihan hanya tiga di atas. Karena yang, cantik, anggun, menawan, mempesona, shaliha, berakhlak baik, stoknya tidak selalu ada. Kalaupun ada, sudah keduluan orang lain. Kamu berada di posisi yang mana Ida?

Tidak sedikit pria beriman yang akhirnya memilih wanita kedua, karena ia memandang keimanan dan ketaatan si akhwat. Bukan rupa wajahnya, karena ia menyadari bahwa nilai kecantikan seorang wanita bukan terletak pada kecantikan rupanya. Melainkan pada akhlaknya. Jika akhlaknya bagus, insya Allah, dialah yang akan mampu diajak untuk menjalani biduk rumah tangga sakinah, mawadah, warohmah. Seperti yang didambakannya.

Wanita yang rupa wajahnya cantik memang akan mudah sekali dikenali pada saat pertama berjumpa. Namun, kecantikan yang terpancar dari aura keimanan wanita yang wajahnya tidak seberuntung wanita cantik, kadang baru akan bisa dikenali setelah beberapa waktu berdekatan. Dan ini tentu tidak akan merugikan ikhwan yang telah memilihnya untuk mendampingi perjuangannya. Karena sungguh, wanita dengan wajah tidak cantik namun shaliha, insya Allah akan lebih unggul dibanding wanita yang cantik namun berhati jahiliyah.

Lantas bagaimana dengan wanita yang tidak cantik namun berakhlak buruk? Berhati jahiliyah? Apalagi jika ketahuannya setelah dinikahi. Betapa malang yang menjadi suaminya! Dan fakta semacam ini banyak sekali terjadi di sekitar kita. Bahkan bisa jadi kita sendiri orangnya. Naudzubillah. Semoga tidak.

Saya kembali bertanya, apa yang ada pada dirimu, Ida? Mengapa kamu sampai hati berfikir yang bukan-bukan pada suamimu (LDL sering membuat pikiran ini berfikir buruk)? Jika kamu berusaha mentaatinya dalam rangka taat kepada Allah, maka, nilai kamu pada posisi yang kedua. Tapi jika kamu melakukan kebalikannya, maka kamu berada di posisi ke tiga. Betapa buruk dirimu!

Tanya itu masih bersambung, Ada berapa banyak di dunia ini wanita yang seperti ini?
Cantik tidak, kaya tidak, karir tiada, ilmu belum ada, menjadi shalihapun hanya pura-pura. Bagaimanalah ini?

Semula orang terpikat karena tampak kasalihahannya, tapi ternyata judesnya melebihi wanita-wanita jahiliyah? Apa yang bisa didapat seorang suami dari wanita semacam ini? Tekanan? Betapa kejam. Terakhir, jangan salahkan jika akhirnya para ikhwan memutuskan untuk memilih wanita yang cantik. Toh memilih yang jelekpun tetap tidak menghargai perintah agama!


Bisa jadi wanita cantik yang berakhlak buruk itu masih bisa dituntun ke jalan-Nya, untuk berbenah. Lha kalau wanita yang sudah tahu namun tidak menjalani? Bisa jadi sulit mengarahkannya. Wallahua’lam…

Intinya, untuk teman-teman muslimah yang saya cintai, jika antum merasa wajah tidak cantik. Percantiklah dirimu dengan akhlaqul karimah, agar kelak antum tidak mengecewakan suami antum. Semoga kelak menjadi para bidadari-bidadari surga di firdaus-Nya…

Semakin mendekatlah kepada-Nya. Saya sadar benar, akhir-akhir ini, saya memang merasa sangat jauh dengan Allah. Saya telah menjauh dari-Nya. Jarang mengaji, jarang qiyamul lail, sehingga sangat layak jika Allah, sering menegur dengan mendatangkan ujian-Nya. Dari penyakit yang nggak hilang-hilang. Hingga masalah-masalah kecil yang akhirnya menjadi besar. dan saya sadar semua adalah kelalaian saya pribadi.

Ida Raihan
Cheung Sha Wan- Hongkong

sumber : muslimdaily.net

Bandung, kisah ini sangat menyentakku.... ainul mardhiyah.. diposisi manakah dirimu ? mungkin diriku diposisi yang ketiga. betapa buruknya dirimu wahai ainul mardhiyah.......

disisa sisa potongan waktu, disela sela desau angin

ku coba tuk berdiri kembali , mencoba bangkit di atas keruntuhan sebuah pena yang terluka

ya Allah.... ijinkanku kembali pada-Mu.....

 

(read more ...)

Ketika keyakinan itu datang.....

curhat 5 Comment

 Ketika mulai mengabarkan berita pernikahanku kepada kalangan-kalangan dekat.. timbul pertanyaan yang berulang dan setipe dari mereka.. (bayangin hanya dalam jangka waktu 2 hari ku harus mempersiapkan diri tuk menjadi seorang istri setelah melalui masa ta’aruf kurang lebih 1 bulan ( suamiku datang tgl. 18 januari 2009 trus tgl. 20 januari 2009 pernikahan kami dilangsungkan. alhamdulillah. doain yakkk.... ) ..... harus sms kesana kemari, harus telpon keluarga dikalimantan... dadakan banget... )

Pertanyaan yang dulu juga kutanyakan kepada teman-teman dekatku yang menikah..

Selain pertanyaan mereka berupa “sama siapa?”, yang kujawab dengan “bukannya ga mau ngasih tau, tapi lihat nanti aja ya…..


pertanyaan yang juga tipikal adalah :” “ Bagaimana kamu bisa yakin bahwa dialah orang yang tepat?”

Hmmh.. pertanyaan yang berat-berat-gampang untuk dijawab.tapi kukira pertanyaan ini wajar karena proses ta’aruf sampai ke pernikahan dengan suamiku ini hanya berlangsung kurang lebih 1 bulan. dan hanya bertemu 1 kali trus menikah deh.... 

Berhubung banyak perempuan, termasuk aku dulu juga pernah bertanya-tanya tentang hal ini, maka aku pikir ga ada salahnya aku berbagi tentang proses ‘keyakinan’ ini.

Entah kebetulan, entah disengaja, pada saat ini aku berkeyakinan bahwa dia-lah satu-satunya pria yang paling tepat untuk jadi pendamping hidupku. (Ini kalo di film komedi-romantis, pasti udah ada backsound “Owh.. so swiiit..” hehe )

Pertama, indikator keyakinan ini sangatlah mudah.. My heart tells me so.. radar keyakinan berupa kemantapan saat pertama kali pertemuan kami. keyakinan didalam hati bahwa inilah mujahid yang dipilihkan Allah tuk menjadi imamku nanti. sehingga tiada keraguan sedikitpun dihatiku tuk mengatakan "iya" memilihnya

Poin kedua, kesolihan. Banyak sekali pria-pria baik, tampan, pinter, tajir yang kukenal.. tapi yang soleh? Banyak juga sih.. hehe, ya Alhamdulillaah sebagian lingkungan pergaulanku  orang-orang yang suka ngaji, suka sholat, suka da’wah, suka mematuhi orang tua, pimpinan, de el el..

Tapi kadang saking sholehnya (sholeh dalam pandangan ku sebagai manusia yang dhoif. Dan moga2 sholeh juga dihadapan Allah . amin ) aku malah jadi nyuruh diriku untuk “ngaca”, sepertinya aku kurang sepadan deh ama mereka.. aku kan masih pecicilan gini, masih jauh dari profil akhwat solihah rahimakumullah, ngeliat lembar mutaba’ah yaumiyah cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyengir miris... jadi sudah jelas kan sodara2, ainul mardhiyah  ini minder dengan pria-pria yang tampak sangat soleh…

Tapi kan aku masih pengen dapet suami yang soleh.. Emang ga boleh berharap punya suami yang bisa ngebenerin langkahku yang amburadul ini, sayang sama anak-anakku kelak, dan SIAGA (Siap Antar Jaga-alias nyupirin, halaah..). Prinsipnya berarti mencari laki-laki yang tidak egois, solehnya ga Cuma untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk yang lain..

Hingga akhirnya aku men-set profil/ kriteria calon suamiku harusla soleh yang ga ketawan solehnya.. (nah lho??), dia haruslah memahami dien ini sebagai agama yang manusiawi, agama yang rahmat, agama yang applicable to all aspects.. dia ga harus ketahuan jungkir balik ,tapi cukup ketahuan kalo dia istiqomah, memahami agama dengan cara memahami yang tepat (ga liberal, ga asal-asalan, berpedoman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah) dan membela agama ini apapun yang terjadi. Seperti mengengam bara api… walau panas dia tak boleh melepaskannya… seperti lilin yang siap menerangi siapa saja walaupun harus terbakar abis tidak seperti lampu pijar yang bisa di on atau dioff kan kapan saja oleh siapa saja . hmmm

Sekarang lihat dia, jenggot ga ada, jidat ga item, celana ga nyungkring.. di friendsternya malah Cuma ada foto presiden sukarno …..  apa dia penggemar presiden sukarno yak…. Nah ini belum sempat kutanyakan padanya sampai saat ini …… (ampun deh DJ..) tapi aku cukup terkesima lah ketika di beberapa kesempatan secara ga langsung beliau mengajarkan aku bahwa setiap langkah dalam hidup itu jangan di-sia2kan.. bahasa betawinya, dia ga banyak bacot.. bahasa sundanya naon nya’ hmmmm …… tapi kegelisahannya terasa jika ummat manusia di sekitarnya melenceng. insyaALLAH aku merasa sering diingatkan untuk sering ‘lihat ke bawah’. Aku bersyukur ada seseorang yang secara ga langsung mengingatkanku, bahwa segala sesuatu yang kita miliki ini sebenernya bukan milik kita dan ada hak-hak orang lain terhadap harta yang dititipkan-NYA kepada kita . Makasih ya mujahidku…. .. be like that terus dan terus… (eh lupa.. suamiku ini kukenal melalaui dunia maya ini hmm.. tepatnya melalui cyber MQ ini... )

Ketiga, Karakter. Dia sederhana namun unik—juga tidak narsis. Hmm… eh sedikit narsis ketang Sederhana dia tuh gimana ya.. ngga nganeh2 lah, lifestyle-nya gitu2 aja, tapi seleranya ga norak.. ga kampungan.. ... 

Trus.. ulet.. . sabar..... Itu juga yang buat aku yaqin. (tau darimana hayooo... kan belum pernah ketemu ? hmm.. ini kuketahui dari cerita dia ke ayahku ketika kami melalui proses ta’aruf . hus.. hus.. jangan suudzon dulu yak.. maksudnya suamiku ini waktu masa ta’aruf berkomunikasi dengan ayahku by phone gitu... ) suamiku ini bukanlah dari keturunan orang kaya..... , buat apa sih nikah sama cowo tajir 7 turunan kalo cowo itu males dan Cuma bisa gaya dengan mobil-rumah-dan apalah itu yang milik orang tuanya. Ama dia ini, aku yakin, walopun mungkin-siapa-tau-tapi-semoga-jangan-sampe-terjadi kami kekurangan secara ekonomi (baca: jatuh miskin dan ga bisa online ), setidaknya kami punya harga diri. Karena dia selalu memastikan rejeki yang masuk ke perutnya itu halaal (berarti dia juga punya standar kualitas tinggi akan kehalalan rejeki yang masuk ke pintu rumah keluarga kami), maksudnya dia pasti memperoleh rejeki dengan cara yang jujur (kerjanya halaal, prosesnya halaal, ga menjilat, dsj),  oalaah calon suamiku ini..  (eh sekarang udah jadi suamiku. Alhamdulillah ) semoga kau bisa membawaku ke syurga... ‘amiin..

Romantis? Kayaknya suamiku ini ga romantis deh malah cenderung kurang peka…. Tapi Ada bakat juga sih.. tapi tauk deh, semoga romantisnya tepat sasaran.. (maksudd??). yah, yang penting ada bakat romantis, itu mah udah cukup bagi semua perempuan. Cerdas? Damn sure.. gaull? Ya secara wawasan, tapi nggak gaul di gaya.. hehe, tapi nyambung lah hmmm

Lembut? Ya, kalo lagi ga kumat rese’nya sih lembut. Penyayang? InsyaALLAH.. kebayangnya sih nanti dia ini bakal deket banget ama anak2nya..’amiin.

yuk kita intip point ke - 4 .................

Poin ke-4, beliau punya banyak sekali kekurangan. (seperti diriku yang juga banyak kekurangan..... bahkan sangat banyak.. sehingga pertama kali memutuskan ya.. ada rasa takut ... takut diri ini mengecewakan dia.... tapi keyakinan akan pilihan yang telah Allah berikan membuat diri ini berani tuk menatap tegak bahwa dibalik kekurangan pasti ada kelebihan.. semangattt.... !!!) Ffffiuuuhhh.. syukurlah, berarti aku memang  menikahi seorang manusia ya. Kekurangan-kekurangan dia pun aku pelajari satu-satu. Sejauh ini ( 2 bulan lebih pernikahan kami) kekurangan-kekurangan itu (baik keukrangan dari pihak suami maupun kekurangan dari diriku dan lebih banyak masalah ditimbulkan dari kekurangan yang datang dari diriku ) cukup sering membuat konflik dan menimbulkan kesal. Dia orangnya tsiqoh banget ama diriku  sehingga tiada  kekhawatiran dalam dirinya padaku karena katanya : ku yakin Allah akan menjaga istriku... " (halah halah.. so sweat.... tapi kadang nyebelin ) sedangkan aku super terbuka (baca: ember_red). Dia sedikit cool , tapi ramah , ga mau basa-basi lah, en the bre en the bre..

Alhamdulillaah so far, kekurangan2nya dan perbedaan2 itu tidak terlalu prinsipil. Aku yakini itu bisa jadi pelengkap dinamika hidup berumah tangga kami. Aku anggap memang itu paketannya.. justru dia terlihat sempurna sebagai manusia karena dia memiliki kelemahan-kelemahan itu..
uhhibuka filla wal lillah mas.....

bukankah kita hidup didunia ini bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai  , tapi kita mencintai seorang yang tak sempurna dengan cara yang sempurna ….

Yang penting, aku menerimanya sepenuh hati. Semoga begitu juga yang ada dalam hatinya terhadap diriku.. ada masa dimana cinta ini mungkin akan meluntur di kemudian tahun, harapannya sih tidak, semoga cinta ini selalu terawat, hingga jadi berlebih sehingga kami harus membaginya ke kaum dhuafa, kepada manusia-manusia yang masih kegelapan dalam jalan hidupnya.

Ini sebuah mimpi besar, ekspektasi yang juga besar..

Ada kalanya ragu dan takut ini muncul,

Karena sadar diri ini lemah dan kurang adanya, tapi bermimpi melampaui jangkauan semestinya,

Semoga inilah rumah tangga da’wahku yang pertama dan tidak akan pernah berakhir hingga di syurga..
 
Pernikahan kami adalah kenangan terindah yang tak bisa ku lupakan. kesederhaan yang dia tawarkan , kehidupan yang penuh tantangan , kehidupan sebenarnya yang harus kami lalui di jalan Dakwah. Dijalan Dakwah kami menikah, dan dialah yang kupilih menjadi suamiku atas ijin Allah karena dia adalah penumbuh benih benih dakwah.

So for everybody who reads this, ketika anda-anda semua membaca tulisan ini lihatlah bahwa kami sangat bersyukur atas karunia pernikahan ini. Mungkin dimata kalian semua dia  bukanlah siapa2 tapi dimataku dalam hatiku dia adalah sangat sangat luar biasa. Karena dia suamiku. Dialah Qowwamku……..
 
Suamiku….. jangan pernah berhenti mencintai istrimu yang manja ini…. Teruslah tuntun dan bimbing diriku tuk menjadi pengantin dan pendampingmu disyurga ……. Amin.
 
Suamiku… kuingin beranjak tua bersamamu … atas ijin Allah…..

 

 

(read more ...)

Aku Malu menjadi Wanita

curhat 2 Comment

" Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. " Kata ukhti liana,  teman pengajianku

Ia melanjutkan ceritanya "Begini asosiasinya.. di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi. "

"iya, terus teh ..?" kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.

"Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali, dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya" Ceritanya

"Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah..!

Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. " katanya lagi

"wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. " celetuk salah satu temanku.

"Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, teh? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang baik-baik juga. Gitu ya, teh?" kata temanku.

" Benar, Seperti janji Allah SWT, "Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. " penjelasan nya.
 
Sumber : Era Muslim
*************

Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.

Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi KAU yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.

Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. "aku malu menjadi wanita!"

Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.

Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini. Entahlah, sampai saat ini , saat dimana umur masih dikandung badan ini aku sudah menjadi wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan, kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk mempertanggungjawabkan ini semua.

Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari kesholehan akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.

Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah.."

 

(read more ...)

Saudariku.... kuingin meraih syurga bersamamu

curhat 0 Comment

Memakai jilbab, untuk saat ini dan di negara ini, bukanlah berarti sebuah pengilmuan akan agama. Dulu aku pernah beranggapan bahwa seorang yang memakai jilbab adalah orang yang akan berusaha mempertahankan jilbabnya disebabkan proses pemakaian jilbab itu sendiri membutuhkan pergulatan di hati yang membuncah-buncah dan penuh derai air mata. Tapi sayangnya, makin bertambah usiaku, maka berubah pula anggapan itu disebabkan berbagai kenyataan yang kutemui.
 
Aku baru menyadari ada sebagian wanita yang menggunakan jilbab hanya karena sekedar disuruh atau diwajibkan oleh orang tua, tempat belajar atau tempatnya bekerja. Jika telah keluar dari ‘aturan’ itu, maka lepas pula jilbab yang menutupi kepalanya. Mungkin karena itulah kain-kain itu tidak menutup secara benar kepala dan dada mereka.
 
Sebagian lagi, memakai jilbab karena pada saat itu, jilbab terasa pas untuk dipakai dan lebih menimbulkan kesan ‘gaya’ dan kereligiusan agama. Apalagi jika diberi pernak-pernik di sana-sini. Jilbab yang seharusnya menutup keindahan wanita tersebut malah justru menambah keindahan itu sendiri. Ditambah lagi kesan agamis yang terasa nyaman di hati.
 
Aku juga pernah berpikir dan bertanya-tanya, bahwa orang-orang memakai cadar dan berjilbab lebar apakah tidak kepanasan dengan seluruh atributnya? Apakah tidak repot jika hendak keluar dimana mereka harus memakai seluruh kain panjang tersebut? Mulai dari baju, jilbab yang lebar, masih harus ditambah memakai kaus kaki! Ah! Dan di balik jilbab itu, ternyata masih ada jilbab lagi! Dan… apakah mereka bisa melihat dari balik cadar yang menutup matanya?
 
Untuk yang satu ini, waktu tidak cukup untuk menjawab semua pertanyaan itu. Karena butuh pengetahuan lain yang merasuk ke dalam hati untuk mendapatkan jawabannya. Pengetahuan akan indahnya Islam dengan segala pengaturan yang diberikan oleh Allah. Pengetahuan akan surga yang begitu indah dan damai dengan segala kenikmatannya. Pengetahuan bahwa surga tidak akan tercium oleh wanita yang mengumbar-umbar aurat di depan khalayak. Pengetahuan bahwa penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita. Ternyata kerepotan itu bukanlah kerepotan, melainkan sebuah usaha. Usaha dari seorang wanita muslimah untuk menggapai surga-Nya. Untuk bersanding dengan suaminya ditemani dengan bidadari cantik lainnya. Panas dari jilbab itu bukanlah rasa panas yang menyesakkan pikiran dan dada. Akan tetapi hanya sepercik penguji jiwa yang dapat meluruhkan dosa-dosa kecil dari seorang insan wanita. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap kesusahan yang dialami muslim merupakan peluruh bagi dosa-dosanya.
 
Maka… hatiku kini pedih… Ketika kemarin melihat saudariku yang lain, seiring dengan berjalannya waktu, kini telah membuka jilbabnya. Sempat kutanyakan, “Di mana jilbabnya?”
Ia menjawab, “Tidak sempat kupakai.”
 
Aih… waktu kutanyakan itu, memang pada saat dimana orang-orang sibuk menyelamatkan dirinya dikarenakan bencana alam. Aku hanya terdiam mendengar jawaban itu. Ah… mungkin karena sangat terkejutnya sehingga tidak sempat berbalik lagi untuk mengambil jilbab.
 
Tapi hari ini… kutemukan dia sudah menanggalkan jilbabnya. Bahkan tak tersisa sedikitpun jejak bahwa ia pernah memakai jilbab. Kini ia telah bercelana pendek dengan pakaian yang pendek pula. Sesak rasanya dada ini. Tetapi belum ada daya dari diriku untuk bertanya lagi tentang sebuah kain yang menutupi kepala dan dadanya. Masih tersisa di benakku, jika seseorang yang menggunakan jilbab melepas jilbabnya… maka habislah sudah… karena perenungan dan pergulatan hati itu kini telah dikalahkan oleh hawa nafsu. Perenungan yang pernah mendapatkan kemenangan dengan dikenakannya jilbab itu kini justru bahkan tak mau diingat. Hanya kepada Allah-lah aku mengadu dan memohonkan hidayah itu agar tetap ada bersamaku dan kembali ditunjukkan kepadanya.

Saudariku… kuingin meraih surga bersamamu. Maka, saat ini aku hanya bisa berdoa. Semoga kita bertemu disyurga kelak. amin

*Semoga Allah menjadikan hati-hati kita bersatu dan bersih dari sifat dengki, hasad, dan merasa lebih baik dari orang lain*

 


(read more ...)

Nasehati aku sebelum kamu pergi

curhat 0 Comment

Ketahuilah saudara saudariku ... bahwasannya kunjunganmu kepada saudara saudarimu adalah penyebab timbulnya kecintaan Allah kepada kalian berdua. Niatkanlah kunjungan itu sebagai ketaatan kepada-Nya, bukan hanya untuk membuang waktu sia sia begitu saja.

Ibnu Qayyim berkata dalam kitab Al-Fawaid : " perkumpulan sesama saudara itu terbagi menjadi dua :

  1. Perkumpulan yang hanya untuk menghibur hati dan menghabiskan waktu sia-sia. Perkumpulan seperti ini mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya. setidaknya perkumpulan seperti ini dapat merusak hati dan membuang waktu sia - sia begitu saja.
  2. Perkumpulan untuk saling bekerja sama memperoleh kesuksesan dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.perkumpulan seperti ini mendatangkan kebaikan dan manfaat yang sangat besar.

saudara saudariku... mari kita tanya pada diri kita .... masuk keperkumpulan yang manakah kita dikala kita masuk kesalah satu sarana yang tersedia melalui dunia maya ?  semoga kita masuk keperkumpulan yang kedua. amin Allahumma amin.

Mengunjungi saudara saudari karena Allah akan memperoleh ganjaran pahala yang besar dari Allah. oleh karena itu, masing masing kita dari kita wajib mengunjungi saudara saudarinya dengan meniatkan kunjungan tersebut karena Allah, bukan hanya sekedar untuk menghabiskan waktu sia sia dan menghibur hati belaka.

mari kita sama - sama saling bekerja sama untuk menjadikan kunjungan kita kepada saudara saudari kita dalam rangka untuk saling menasehati dan menanyakan kondisi saudara saudari kita. selain itu, dalam rangka untuk saling merasakan kebahagiaan ataupun kesedihan yang sedang dirasakan. hendaknya setiap kunjungan diakhiri dengan saling memberi nasehat.

Allah berfirman :" wal ashri......... Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar benar berada dalam kerugian, kecuali orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. 3 ; 1-3)

saudaraku semoga hidup yang singkat ini penuh manfaat, karena kita selalu semangat untuk belajar tentang apa saja. untuk saling menasehati dalam keadaan apapun. sehingga kita terbiasa untuk banyak memberi dan sedikit meminta. lebih banyak berbuat daripada bersantai menanti harapan, lebih banyak menangis karena letih daripada tertawa tanpa beban. kita beramal dengan apapun yang kita punya, dimanapun dan kapanpun hingga tiba masa untuk mengembalikan jiwa ini kepada-Nya.....

mari saudara saudariku... jernihkan hati.... sesungguhnya semua kita butuh nasehat. siapapun dia karena kita punya jalan untuk futur.

Manusia itu insan kerdil yang senantiasa cenderung melakukan kesilapan. berdampinglah kamu dengan insan - insan yang mampu menasehatimu apabila kamu melakukan kesalahan. serta insan yang mampu menerima teguran apabila dia melakukan kesilapan karena manusia itu diciptakan saling memerlukan antara satu sama yang lain....

(read more ...)