Didalam buku BERPIKIR DAN BERJIWA BESAR , DAVID. J.SCHWARTZ berkisah Suatu malam, tuturnya sebagai bagian program pelatihan penjualan, saya mendiskusikan “pengembangan lingkungan Rumah tangga untuk sukses penjualan “ untuk mengilustrasikannya, saya bertanya kepada peserta pelatihan .” kapan terakhir kali, selain tahun baru, ulang tahun perkawinan, atau hari ulang tahunnya , anda membuat kejutan kepada istri anda dengan hadiah istimewa ?”
David J.Schwartz merasa kaget dengan jawaban peserta pelatihan. Dari 35 orang, hanya seorang yang membuat kejutan bagi istrinya selama sebulan terakhir. Sebagaimana dilakukan Schwartz, rasa rasanya pertanyaan diatas menarik untuk diangkat. Pernahkah kalian berfikir untuk membahagiakan kekasih kalian dengan menciptakan momen istimewa baginya.
Mungkin karena alasan kesibukan, sehingga banyak orang tidak lagi mampu meluangkan waktu untuk kekasih mereka. Pertemuan pertemuan yang terjadi tidak jarang bagaikan perjumpaan ditengah padang gersang. Kering dan tidak menyegarkan.
Saya berpikir, mungkin, karena kalian tidak pernah merencanakanya. Kalian menganggap bahwa istri tidak membutuhkannya. Tugas tugas yang bertumpuk menggiring kalian berpikir keras untuk menyelesaikannya. Sesungguhnya karena tugas tugas bertumpuk itulah, kalian perlu istirahat sejenak. Mengendorkan saraf ketegangan kerja, sekaligus memberikan perhatian istimewa buat kekasih kalian. Agar ada energi baru yang disuntikkan kedalam diri dan hubungan kalian.
Saya menemukan beberapa kasus dimana banyak diantara kalian kurang memberikan perhatian yang terencana. Perhatian yang akan memberi sumbangan besar bagi hubungan hubungan kalian sehingga kalian menemukan kesegaran interaksi. Sebuah investasi kecil yang berdampak besar. Investasi yg akan membuat istri merasa bahagia. Kenapa ? kesaksian cinta masih mereka temukan dalam diri kalian. Ditengah kesibukan dan terbatasnya waktu, kalian masih sempat memikirkan hubungan hubungan istimewa denganya.
Rasanya kalian harus berpikir untuk tidak meremehkannya. Rasulullah ternyata dalam pernik pernik kehidupan berkeluarganya tidak melupakan persoalanini. Beliau selalu menciptakan momen momen istimewa, tentu ditengah kesibukan beliau yang luar biasa. Kenapa bisa ? karena, beliau merencanakannya. Begitu kalian merencanakan maka kalian akan mampu meluangkannya.
“Aisyah bercerita bahwa suatu hari orang orang Habsyi masuk mesjid lalu melakukan permainan. Saat itu Rasulullah bertanya kepadaku :”
“Wahai Humaira, apakah kamu ingin melihat mereka ?”
“ya, tentu.” Jawabku.
Beliau lalu berdiri dipintu. Aku mendekat lalu menyandarkan daguku di pundak beliau dan menempelkan wajahku pada pipi beliau. Salah satu ucapan ucapan mereka ketika itu adalah :” Wahai Abul Qaasim, selamat berbahagia.”
Selanjutnya Rasulullah bersabda :” Aisyah, sudah cukup bagimu ?”
“Ya Rasul, jkangan terburu buru,” JAwabku
Akhirnya beliau berdiri seperti semula. Beberapa saat kemudian beliau berkata.” Cukup, ya ?”
“jangan tergesa gesa, Ya Rasulullah.”
“Aisyah lalu berkata :” sesungguhnya aku tidak terlalu suka melihat mereka bermain. Hanya saja aku ingin agar istri istri beliau yang lain mendengar bahwa beliau berdiri seperti itu dan aku berdiri di belakang beliau.”
‘Aisyah tidak menikmati permainan dari orang orang Habsyi. Ia sama sekali tidak menyukainya. Wanita muda itu hanya mengharap perhatian lebih dari suaminya. Perhatian yang istimewa, dan dia menghendaki orang lain mengetahui seluruh perhatian Rasulullah kepadanya. Disitulah kebahagiaan itu terajut dengan baik. Sesuatu itu tidak perlu mahal. Yang terpenting adalah perhatiannya. Apapun yang memperlihatkan bahwa anda mendahulukan kepentingan keluarga akan sangat dihargai.”
Ada sebuah kisah menggelikan, tetapi juga menggambarkan bahwa perhatian sangat dihargai para wanita. Ini kisah saat seorang suami tergerak untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada istrinya. Ia merencanakan untuk memberikan perhatian istimewa, meski sangat sederhana. Pada hari yang telah ditentukan, ia mendekati istrinya.
“Sayang, aku sangat mencintaimu. Selamat ulang tahun ! semoga Allah memberkahi keluarga kita .” katanya lega
“jazaakallahu khairan katsiira , mas. Terimakasih jawab sang istri dengan haru. Kata kata suaminya terasa salju yg menyejukkan jiwanya. Lalu ia melanjutkan perkataannya :” apakah mas lupa ?”
“lupa apa sayang ?”
“tanggal lahirku bukan hari ini, mas tapi besok !”
“Astaghfirullahal’adziim, maafkan aku saying.” Rasa kaget, malu dan rasa bersalah menggumpak diwajahnya.
“tak apa , mas. Aku tetap senang. Bahagia.”
Menciptakan momen istimewa bagi kekasih kalian adalah wujud dari perhatian yang terencana. Didalamnya berpadu banyak hal ; kebersamaan, kerinduan, kemanjaan dan seluruh bahasa jiwa yang mungkin lahir karena keberadaanya. Seluruhnya membentuk irama cinta yang mempesona.
Syarat pembentukan irama itu adalah : Kesabaran. Kesabaran untuk membersamai kekasih kalian ketika ia menangkap bulir bulir perhatian yang kalian tiupkan dengan nafas ketulusan. Ia akan menmenikmati kebersamaan yang kalian ciptakan. Seakan akan sebelumnya telah terjadi perpisahan yang teramat lama. Ia melekat dalam rengkuhan kalian dan teramat susah untuk meninggalkan momen itu. Saat seperti itu, ia tengah memberi penghargaan atas perhatian suaminya. Dan secara beriringan kalian juga belajar mengenali bahwa ketulusan menambah gairah yang tak berkesudahan. Maka, jika perpisahan menyekat suami-istri, momen momen kebersamaan itu menjelma menjadi kenangan. Dan, kenangan mendekatkan jarak psikologis antara keduanya.
Bandung, in memoriam
Kenangan itu kembali menguak asa disini , dihati ini mas…
tak sadar air mata mengalir merentas kerinduan terdalam……
terimakasih cinta... atas kejutan terindah yang mas berikan .....
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat diucapkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Lelaki itu terlihat kusut. Beban permasalahan terasa berat untuk ditanggungnya. Pagi tadi ia harus uring uringan dengan istrinya. Persoalan2 sepele sering memicu pertengkaran antara keduanya. Padahal, usia pernikahan mereka belumlah seumur jagung. Rumah baginya tidak lagi sebagai taman syurga, tetapi telah berubah menjadi ladang penyiksaan yang menyempitkan jiwa. Kepalanya terasa penat.
Pagi itu ia putuskan untuk pergi dari rumah.. tak ada tujuan yang jelas dia mau kemana. Ia hanya ingin pergi meninggalkan rumah. Dengan diam diam, tak ingin diketahui istrinya, lelaki itu pergi ke luar. Ia hanya berjalan kaki. Terus saja ia berjalan., sesekali muncul keinginan untuk menceraikan istrinya. Namun, niatan itu urung ketika wajah anaknya melintas dikepalanya. “astaghfirullah!” dan ia terus berjalan.
Ia baru menyadari kalau perjalanan yang ia tempuh telah terlalu jauh ketika adzan dzuhur dikumandangkan. Didepannya persisi berdiri sebuah masjid. Terik panas yang membakar tubuhnya tak mempu melelehkan beban pikirannya. Shalat dulu, pikirnya. Mungkin air wudhu mampu memberikan kesegaran. Ia tergerak untuk berwudhu dan selanjutknya shalat dzuhur.
Setelah shalat lelaki itu beristirahat sejenak di serambi. Sampai akhirnya ia berhasrat untuk menyampaikan segala beban pikirannya kepada imam masjid yang tadi memimpin shalat berjamaah. Imam itu masih sangat muda, tetapi sorot matanya teduh. Entah oleh dorongan apa, lelaki itu bercerita tentang beban pikirannya kepada sang imam.
“mas, saya hanya ingin bertanya. Kalau antum dikejar anjing, apa yanbg akan anda lakukan ?” Tanya sang imam.
Lelaki itu terdiam sejenak . ia belum mengetahui hubungan antara pertanyaan sang imam dengan persoalan yang membelit dirinya. Namun, ia mencoba untuk menanggapi.
“saya akan lari,” jawabnya singkat
“oo, begitu,” kata sang imam. “ dengan lari anda yakin anjing itu akan berhenti mengejar anda ?”
“saya tidak yakin.”
“kalau begitu apa yang akan anda lakukan ?” kembali sang imam bertanya
“saya akan ambil balok. Saya akan pukul anjing itu.”
“dengan memukulnya anda yakin anjing itu akan berhenti mengejar anda ?” mendengar komentar sang imam, lelaki itu kembali terdiam. Ia lalu menggelengkan kepada.”lalu?“ Tanya sang imam.
“Ya sudah, saya akan balik mengonggonginya !” kata lelaki itu. Sang imam tertawa. Entah karena dorongan apa, lelaki itu mendadak turut tertawa.
“ha.. ha.. ha… anda yakin anjing itu akan berhenti mengejar anda ?”
“saya akan berlari sambil berteriak, “ hei, siapa pemilik anjing ini! Tolong , anjingmu mengejarku !” jawab lelaki itu masih sambil tertawa. Sang imam mendadak terdiam. Lelaki itu memandang sang imam dengan penuh pertanyaan.
“Yah ! tepat sekali, mas. Jika masalah yang kau hadapi itu ibarat anjing, maka, antum harus berlari kepada pemilik masalah,” kata sang imam.
“Allah !?” Tanya si lelaki. Sang imam hanya menganggukkan kepala.
*********
Kehidupan rumah tangga tidak bisa lepas dari permasalahan. Kita lebih susah membayangkan bahwa kehidupan keluarga kita akan bertabur bunga sepanjang harinya. Pada setiap lipatan hidup kita, pastilah akan dijumpai permasalahan. Setiap lautan yang diarungi oleh sebuah kapal, tidak selalu tenang airnya. Saat saat tertentu akan ada gelombang yang menghempaskan. Ada orang yang merasa tersiksa dengan permasalahan yang menimpa keluarga. Permasalahan menjadi bara yang meluluhlantakkan jalinan cinta sang kekasih. Permasalahannya telah berubah menjadi gempa yang meratakan bangunan cinta.
Ada juga orang yang melihat sebaliknya. Setiap permasalahan dalam keluarga disikapinya sebagai angina yang menggiring layer perahu kearah pantai tujuan. Ketika permasalahan datang , cara pandangnya telah mengarahkannya untuk memperkukuh kebersamaan dengan sang kekasih. Kebersamaan akan mempermudah kita untuk menjadikan permasalahan sebagai energi yang memberikan dorongan menuju kematangan diri dan keluarga.
Kebersamaan menjadikan setiap permasalahan menjadi jauh lebih ringan. Disinilah kita menemukan keindahan cinta; saat kita menghadapi derita secara bersama sama.. ketika Ali bin Abi Thalib menikah dengan Fatimah puteri Muhammad saw kehidupan keluarga mereka berada dalam kesederhanaan dan kekurangan. Tapi lihatlah penuturan ikhlas mereka : “ Demi Allah, aku selalu menimba air dari sumur sehingga dadaku terasa sakit.” Kata Ali bin Ali Thalib kepada Fatimah. Saat itu, fatimah yang diajak bicara berkomentar,” dan aku, Demi Allah , memutar penggiling hingga kedua tanganku melepuh.”
Kebersamaan lahir dari sikap kita memandang masalah. Tapi sikap itu lahir dari apa ? ia muncul dari balik bilik kesadaran kehambaan kita. Kesadaran kehambaan pada akhirnya akan melahirkan ketenangan. Dan inilah modal kita untuk mengurai setiap permasalahan menjadi energi pematangan: KETENANGAN.
Dalam hal inilah kita dapat menemukan pemahaman dari firman Allah :” Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d;28)
Itulah sebabnya ketika ditimpa oleh permasalah hidup nabi Ya’kub As segera membangun kesadaran kehambaan :” Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf ; 86)
Kebersamaan dan ketenangan menjadi karang yang menghadang gulungan gelombang yang menerjang. Menghadapi masalah dengan sudut pandang positif akan lebih mematangkan jalinan cinta dan mendewasakan kita dalam bersikap.
Bandung, in memoriam
Anda bisa mengeluh karena mawar berduri, atau berbahagia dan takjub karena duri berbunga mawar ….
Seiring dengan gerak teratur waktu, yakinlah kalian akan menemukan potret sesungguhnya dari istri kalian. Potret utuh tanpa sekat dan kepalsuan. Sekali lagi, seiring dengan bergeraknya jarum jam di dinding rumah kalian, kalian akan menguak seluruhnya tentang istri kalian. Kalian akan memiliki pengetahuan yang sebelumnya belum pernah kalian ketahui.
Setelah kalian menikah dengan istri kalian beberapa waktu, kalian akan menemukan potret yang tidak lagi monochrome tentang dirinya. Kalian akan mengalami yang sama. Lalu, dengan pengetahuan itu, akan muncul dua opsi : kalian semakin mencintainya atau kalian akan kecewa dengannya.
Terlebih ketika pernikahan yang akan dilakukan sejak awal berparadigma tuntutan, bukan sebagai ruang tegur sapa keilmuan; bukan sebagai ruang meningkatkan keimanan; tempat masing masing kita berkesempatan belajar, juga ruang kita saling menguatkan dan meningkatan keimanan. Mendesain rumah tangga kita sebagai rumah para pembelajar, madrasah bagi generasi Rabbani.
Begitulah semestinya kita membangun keluarga, rumah tangga yang dibangun diatas bingkai keluarga pembelajar. Para suami bukan konsumen yang menuntut pelayanan dengan menihilkan kekurangan istri. Masing masing memiliki kelebihan. Kata Nabi Shallallahu alaihi wassallam : wafii kulli khair ( tiap kita memiliki petensi, kelebihan, kebaikan). Tapi sebagaiamana tabiat alam, tak ada yang sempurna pada diri makhluk. Masing masing kita juga memendam kelemahan.
Kiranya pesan Rasulullah berikut patut untuk dijadikan renungan : Janganlah seorang mukmin memarahi seorang mukminah ! apabila tidak suka terhadap salahs atu perangainya, maka masih ada perangai lain yang menyenangkan.” (HR.Muslim).
Ada sisi lain dari kepribadiannya yang sebenarnya sangat mempesona. Persoalannya, bagaimana kalian menemukannya ? menempatkan istri kalian dalam posisi istimewa. Ia sangat berarti dalam hidup kalian. Sesungguhnya istri kalian memiliki rekening peran yang luar biasa besar bagi keluarga. Sayangnya, kalian jarang jeli menangkap setiap peran yang dilakukan. Kenapa ? sebagian suami menganggap bahwa apa yang dilakukan para istri merupakan kewajaran. Begitulah yang seharusnya dikerjakan oleh istri, pikir kalian. Kalian melihat pekerjaan istri tidak terlalu menarik. Kehadiran seorang istri terasa tidak bermakna. Sungguh, pada Allah ta’ala saya berlindung atas semua sikap itu.
Akhirnya, makna kehadiran akan lahir dalam kepergian. Ketika kekasih kalian tidak ada, barulah kalian membutuhkan kehadirannya. Rumah terasa sunyi, sejumlah kerepotan akhirnya kalian rasakan. Dan tidak ada tempat berbagi serta bercerita. Padahal sebelumnya, ketika ia hadir kalian tidak cukup memperhatikannya.
* prolog : seorang penulis menulis : ketika istri saya harus opname dirumah sakit, saya berkesempatan pulang sejenak . begitu membuka pintu rumah kontrakan, saya merasakan ada yang hilang. Sepi, posisi barang barang, buku buku, dan tata letak ruangan, mengingatkan saya pada kehadirannya. Sisi melankolis saya menyeruak hadir. Saya pejamkan mata. Tapi pelupuk mata saya tidak kuasa menahan air mata. Saya menyadari bahwa saya butuh dia : istriku yang tercantik dihatiku *
Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw tidak dapat melupakan Khadijah binti Khuwailid, meskipun beliau telah lama meninggal. Goresan kenangan itu terus ada. Bahkan, kenanang itu terasa membekas dan susah untuk dihapuskan. Sampai sampai aisyah bertutur dengan jujur bagaimana cemburu terhadap khadijah. Kecemburuan pada orang yang tidak lagi hadir. Tapi begitulah cinta. Ia tidak ingin dibagi. “Allah sekali kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam satu rongga “ (QS. Al-Ahzab;4). Wallahua’lam.
“Saya tidak pernah merasa cemburu pada istri –istri NAbi Shallallahu alaihi wassallam,” kata aisyah. Ia lalu melanjutkan , “ kecuali, terhadap khadijah. Padahal saya tidak pernah berjumpa dengannya. Tapi karena Rasulullah sering menyebutnya dan sering menyembelih kambing, lalu dipotong beberapa bagian dan dikirimkan pada kenalan kenalan baik khadijah itulah sebabnya.
“saya sering berkata kepadanya :” seakan akan di dunia ini tidak ada wanita selain khadijah ! “ maka beliau akan menjawab :” sesungguhnya khadijah itu begini dan begitu, dan hanya dengan dialah aku dikaruniai anak.” (HR.Bukhari dan muslim)
Suatu ketika halah binti khuwailid, saudari khadijah, pernah minta izin untuk masuk rumah Rasulullah saw . Rasulullah kaget, ia terhenyak sejenak. Ingatan beliau langsung tertuju pada khadijah; suaranya, raut wajahnya dan segala gerak geriknya. Maka, ketika kesadaran beliau hadir, dalam keterharuan beliau berkata :” ya Allah, Halah binti khuwailid. Kukira khadijah.”
Seiring dengan gerak teratur waktu, kuteringat kembali saat itu ketika suamiku berucap :” dek, mas ingin sekali menempatkan adek sebagai wanita tercantik dihati mas, lillah. Ijinkan mas tuk lebih dekat mengenal sisi terdalam hati kewanitaanmu wahai khadijahku…..
Kisah Rasulullah bersama khadijah terlalu menarik untuk dibaca, dan menjadi hampa jika kita tidak belajar mewujudkannya. Mencintai dengan sepenuh hati. Allahu a’lam.
Bandung, in memoriam
Disini ditempat dimana mas pernah menemani adek
Ijinkan adek berucap.. cinta, tempat istimewa dihati ini masih untukmu
Hingga Allah mempertemukan kita disyurga-Nya kelak. Insya Allah. amin
DARI SEKIAN LELAKI yang berbahagia dengan pernikahan, mungkin nama Syuraih Al-Qadhi dapat kita masukkan sebagai salah satunya. Wajah lelaki itu merekahkan senyum ketika salah seorang sahabatnya , Sya’bi bertanya tentang kehidupan rumah tangganya.
Sejenak ia menerawang. Ia mencoba mengumpulkan potongan – potongan memori tentang kehidupan keluarganya. Sambil tersenyum Syuraih bertutur :” sejak dua puluh tahun yang lalu,” katanya,” aku tak pernah melihat istriku berbuat sesuatu yang membuatku marah. Mulai malam pertama yang aku lihat padanya hanyalah keindahan dan kecantikan belaka. Dan, itu berlangsung sampai sekarang. Dua puluh tahun !”
Syuraih kembali menuturkan bahwa pada malam pertama, ia berniat melaksanakan dua raka’at sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Dengan diterangi sebuah lampu yang redup, Syuraih hanyut dalam kekhusyukan ibadah. Namun, betapa terkejutnya Syuraih ketika menoleh mengucapkan salam, dibelakangnya duduk seorang wanita. Dengan cahaya lampu yang remang remang itu, akhirnya syuraih mengenali kalau wanita itu adalah istrinya. Ternyata sang istri turut menjalankan shalat di belakangnya. Wanita itu mengulurkan tangannya. Senyumnya yang indah mengelegakan jiwa syuraih. Senyum itu tidak pernah pudar meski telah dua puluh tahun.
“Selamat datang, wahai abu Umayyah,” sapa sang istri.” Alhamdulillah , aku memuji dan memohon pertolongan-Nya. Semoga Shalawat serta salam tetap terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya,” wanita itu menghela nafas sejenak namun, pendar senyum itu tiada pudar. Dan, kembali melanjutkan tuturnya.
“Sungguh aku adalah perempuan asing bagimu. Aku sama sekali tidak tahu akhlakmu. Terangkanlah kepadaku apa2 yang kau senangi dan yang tidak kau senangi, apa yang kau senangi akan aku usahakan penuhi, dan yang tidak kau senangi aku akan berusaha menghindarinya. Aku yakin diantara kaummu pasti ada orang yang akan menikahkan wanitanya denganmu , begitupula dikaumku, ada laki laki yang sekufu denganku. Akan tetapi, apa yang telah di tetapkan Allah harus dilaksanakan.
“nah, aku telah menjadi milikmu. Lakukanlah seperti yang telah Diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Aku mengucapkan ini dengan mohon ampun kepada Allah atasku dan untukmu.” Begitulah Syuraih menuturkan pernik kehidupan keluarganya kepada Sya’bi, sahabatnya.
***
kita menemukan kisah inspiratif dari sepotong kenangan Syuraih Al-Qadhi dengan istrinya. Kehidupan suami istri adalah persyarikatan antara dua orang yang sebelumnya asing. Tidak pernah saling mengenal. Atau, kalau pun ada pengenalan, maka bisa dipastikan ia tiada utuh. Selalu saja ada bilik kosong yang belum kalian masuki dari kedirian kekasih kalian. Selalu saja ada lembar – lembar yang belum kalian baca tentang dirinya.
Akhirnya, kalian menemukan kenyataan bahwa ada pekerjaan yang tidak pernah berhenti dalam pernikahan. Pekerjaan itu adalah mengenali kekasih kalian secara utuh. Akan tetapi, bukankah pada saat menjelang pernikahan, biasanya telah dilangsungkan proses ta’aruf (perkenalan) ? memang, kadangkala demikian. Hanya saja proses ta’aruf yang terjadi sebelum menikah biasanya dilakukan relative singkat. Keadaan ini menyebabkan terbentuknya gambaran tentang pasangan hidup yang lebih dipengaruhi oleh harapan ideal kalian. Informasi yang dihimpun dari banyak pihak terkait dengan calon istri kalian, lebih banyak berkisar pada kebiasaan2 publiknya. Sementara itu, karakter dasar kepribadiannya belum sepenuhnya terungkap.
Proses ta’aruf sebelum pernikahan jelas sangat berbeda dengan proses ta’aruf setelah akad dilangsungkan. Yang pertama lebih banyak melihat ciri ciri yang menetramkan dan memantapkan pilihan. Belum ada orientasi yang lebih besar selain itu. Saat itu masih banyak pilihan untuk menentukan kehendak.
Sementara itu , ta’aruf setelah akad lebih berorientasi untuk memberikan perawatan terhadap cinta. Seseorang telah berhadapan dengan kenyataan. Ia tidak lagi dbuai oleh harapan yang membumbung.
Kekasih kalian adalah sebuah misteri yang harus dikuak. Cinta selalu menghajatkan pekerjaan kontinum, merawat dan menumbuhkan. Sebelum melakukan semua pekerjaan itu, ada satu proyek yang mendahuluinya, yaitu mengenali secara utuh pasangan kalian. Itulah sebabnya ta’aruf dalam pengertiannya yang luas dan tidak formal merupakan pekerjaan tiada henti. Begitulah yang terjadi dalam diri Rasulullah. Ketika beliau mendapati Aisyah sedang marah dan membanting piring, Rasulullah hanya berujar, “ ibumu sedang marah.”
Pengenalan yang utuh akan mendorong kalian untuk memberikan penerimaan yang utuh pula. Bahkan, lebih dari itu, pengenalan terhadap kekasih kalian pada dasarnya merupakan upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dirinya secara tepat. Setiap penggalan waktu yang dilalui bersama antara suami istri adalah proses panjang untuk saling ta’aruf. Ta’aruf yang berorientasi untuk memelihara cinta. Saat itu kalian tidak lagi memiliki pilihan kecuali mempertahankan cinta bagaimana pun keadaan kekasih kalian. Daya tahan kebersamaan itu akan semakin terjaga ketika kalian tiada sekedar menyesali kekurangan kekasih kalian, tetapi berusaha dengan sabar dan penuh kasih sayang untuk menumbuhkannya.
Disinilah kalian dapat menangkap semanga Ibnu Hajar Atsqolani ketika harus berhadapan dengan istrinya Uns Binti Abdul Karim. Wanita itu biasa saja, tapi Ibnu Hajar mampu menangkap potensi besarnya. Sang suami mengetahui bahwa istrinya sangat menyukai ilmu. Pengetahuan tentang istrinya itulah yang memberikan dorongan bagi Ibnu Hajar untuk mengajari istrinya ilmu hadits, sang istri akhirnya berkembang menguasai pelajaran itu.
kalian dapat menggunakan langkah pengamatan untuk mengenali tabiat dan kebiasaannya. kalian bisa menangkap obsesi dan harapannya melalui pikiran pikiran yang terlontarkan kepada kalian. kalian semestinya sanggup mengetahui sesuatu yang ia benci dan senangi dari diri kalian, melalui respon yang diberikan. Atau, kalian bisa membuka gerbang keterbukaan sebagaimana istri Syuraih Al-Qadhi dengan bertanya secara langsung.
Ta’aruf pasca menikah tidak sekedar mengenali diri istri kalian, tetapi memungkinkan untuk mengenali keluarganya, sahabat sahabatnya dan juga lingkungan yang membentuknya. Diatas hamparan cinta Illahi, kita ingin bermesraan sampai lama. Melampui batas batas usia. Menerabas semak semak penghalang. Dan , diusia pernikahan yang semakin senja , kita ingin melukis cakrawala sambil bercerita tentang sampan nelayan yang kita tumpangi, sanggup menembusi gelombang kehidupan. Bahkan, hamparan itu terus tergelar, membentang hingga negeri akherat. Disana kita masih melanjutkan cerita itu bersama kekasih kita. Semoga. Amin
**************************
Bandung, In Memoriam
Suamiku… ku coba tulis kembali kenangan itu
Biar tidak pudar ditelan waktu….
Suamiku… masih teringat jelas di benakku
Disaat pertanyaan itu ku ajukan padamu wahai mujahidku…
“mas, tolong kasih tau adek, apa saja yang mas senangi dan apa saja yang tidak mas senangi. Adek tau, diluar sana banyak muslimah yang lebih pantas mendampingi mas daripada adek. Tapi Allah telah menakdirkan ikatan ini, Bantu adek ya cinta tuk menjadi istri tercantik di hati mu ya habiballah…….
Cintaku… airmata itu menetes kembali bila teringat kenangan itu….
Doakan istrimu tuk tetap kuat bertahan hingga Allah mempermukan kita disyurga-Nya.
Amin.
(read more ...)
Suatu saat saya marah dan sebel dengan suami saya. saya kira kondisi ini pernah terjadi pada hampir semua yang bergelar istri. biasanya suami saya akan melempar pertanyaan penegasan :" Dek, kamu sedang marah ya sama mas ?"
saya menjawab :" iya" sambil menganggukkan kepala
nah, setiap kali saya marah atau sebel maka yang sering dilakukan suami saya adalah DIAM. ya DIAM. karena kata suami saya ini adalah pilihan terbaik daripada harus meneruskan cekcok. suami saya akan memilih asyik dengan aktivitas yang lain , seperti membaca buku atau �bercengkrama� dengan komputer. suami saya menunggu sampai semua reda dan saya dapat diajak bicara. sekali lagi, suami saya berpikir inilah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. benarkah ?
ketahuilah para suami, pikiran itu tidaklah benar. jujur saya sebagai seorang istri tidak suka dengan gaya demikian. dengan merajuk saya berkata pada suami saya :" kok, ade didiamkan."
"loh, kan sedang marah dan sebel !"
"ya , tapi jangan didiamkan begitu ." kata saya .. didekati saja, disayang sayang."
suami saya tertawa mendengar apa yang saya ucapkan. kata nya : ANEH.
* (Catatan dari suami : tapi tawa saya sekaligus menegaskan bahwa saya belum mengerti dan memahami istri saya. bahkan , sekedar bagaimana menanggapi ketika dia sedang marah sekalipun. untungnya istri saya bersedia memberitahu)
salah satu cara kalian untuk melanggengkan cinta kalian adalah melakukan pengenalan secara utuh terhadap sisi terdalam wanitanya. sebab istri kalian adalah orang yang paling dekat dengan kalian. jangan dibiarkan kedekatan yang kalian jalin sekedar kedekatan fisik, tetapi terasa tidak berkarib dalam emosi dan kejiwaan
kalian tidak terlalu utuh mengenal pola ekspresi wajahnya. kalian terlalu gagap memaknai diksi yang dilontarkannya. kalian sangat "rabun" menangkap bahasa dibalik sorot matanya. kalian bahkan memiliki sisi lemah untuk merasakan getaran jiwanya, dan merabai keinginan keingannya. kalau demikian pengetahuan kalian terhadap istri, rasanya kalian harus mengaku malu, untuk mengatakan kepadanya ,"sayang, aku adalah orang terdekat yang kau miliki."
seorang istri pernah bercerita, bagaimana ia merasa sebel ketika suaminya tidak mengetahui bahwa ia sedang marah. sang suami tetap biasa biasa saja dan baru mengetahui ketika istrinya berkata :" bi, aku ini sendang marah !" Oo, sedang marah, to ? maaf ya aku nggak ngerti."
kisah diatas benar2 terjadi dan sang suami (jelas jelas) sama sama aktivis dakwah.
lagi - lagi kita akan terpesona membaca pengenalan Rasulullah terhadap istrinya, Aisyah. suatu ketika beliau berkata kepada Humaira, Aisyah.
" Wahai Aisyah, aku tahu kapan kamu ridha dan kapan kamu sedang marah kepadaku !"
"bagaimana engkau mengetahuinya, Wahai Rasulullah ?"
" Jika kamu sedang ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan : Ya Rasulullah ! tapi , jika kamu sedang marah kepadaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan : Ya, Muhammad !"
Begitulah Rasulullah mengenali istrinya. dalam situasi jiwa yang berbeda akan ditemukan diksi atau pilihan kata yang berbeda pula. Subhanallah, bagaimana halnya dengan kalian ? bahkan, sekedar mengetahui kalau istri kalian sedang marah saja, sinyal sinyal kejiwaan kalian tidak terlalu tajam.
memang membutuhkan waktu yang tidak pendek, tetapi harus ada keinginan kuat untuk mengenali sisi terdalam istri istri kalian. Agar komunikasi tetap lancar dan tidak tercipta kesalahan prasangka, hanya karena pengetahuan kalian yang dangkal dalam mengenali kekasih kalian, istri kalian. sebab, masing masing orang yang memiliki model ekspresi yang berbeda untuk situasi kejiwaan yang (hampir) sama. maka, jangan buru buru menyamakan istri kalian dengan kalian dalam mengekspresikan situasi kejiwaanya.
pada saat istri tengah terbaring dalam lelap gelap malam, tataplah wajahnya. mungkin ada lelah. tangkaplah pula senyum ketulusan yang melamatkan sketsa kelelahannya. rasakan getaran jiwanya bersama tarikan nafasnya yang tenang; lalu , tanyakan dalam diri kalian sudahkah antara kau dan aku tidak lagi terbentang hijab ?
*** didalam gelap malam, diantara ku tersadar dan tidak suamiku membisikan ditelingaku : dek, beri mas waktu untuk merasai sisi terdalam hati wanitamu.........
Bandung, in memoriam
segenggam rindu untuk suamiku......
ABUL ASWAD AD-DUALI berkata kepada anaknya :" Wahai anakku, aku telah berbuat baik kepadamu sejak kalian kecil hingga dewasa bahkan sejak kalian belum lahir."
"sejak kami belum lahir ?"
"iya, " Jawab Abul Aswad
"Bagaimana caranya, Ayahanda ?"
"Mmh, Ayah telah memilihkan untuk kalian seorang wanita terbaik diantara sekian banyak wanita. Ayah pilihkan untuk kalian seorang ibu yang pengasih dan pendidik yang baik untuk anak-anaknya."
PESAN RABBANI dalam firman Allah :" Perliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusai dan batu." (QS At-Tahrim ; 16), mengajarkan kepada kita akan pentingnya pendidikan didalam keluarga. Ali bin Abi Thalib mengatakan :" Ajari mereka dan didiklah mereka". Keluarga pada akhirnya menjadi sekolah utama dalam kerja pewarisan Islam
Sebagaimana kisah Abul Aswad Ad-Dhuali diatas, Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid didalam bukunya Manhaj At-Tarbiyyah An Nabawiyyah lit-thifl menjelaskan bahwa faktor tak kalah penting yang membantu seorang ayah mendidik anaknya adalah keberadaan seorang istri, perhatian seorang lelaki terhadap generasi penerusnya, semestinya telah dimulai sejak memilih istri. Ia tidak sekedar menuruti keinginan dirinya, tetapi juga berorientasi untuk memilihkan guru bagi anak-anaknya.
Disinilah cita - cita peradaban itu dimulai, yaitu sejak seorang laki - laki memilih pasangan hidupnya. Menentukan siapa istrinya, sekaligus menetapkan calon pendidik bagi putra putrinya. sejak saat itu seorang lelaki semestinya telah membuat design untuk membangun sebuah sekolah didalam rumah.
itulah sebabnya, Abul Hasan Al-Mawardi beranggapan bahwa memilih istri merupakan hak anak atas ayahnya. Umar bin Khathab mengatakan :" Hak seorang anak yang pertama - tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. yaitu, seorang wanita yang memiliki kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak baik, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna, serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan."
Didalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi mengatakan :" pilihlah tempat yang baik untuk menyemaikan nutfah kalian, nikahilah wanita wanita yang seimbang dan nikahkanlah wanita - wanita itu dengan mereka."
hmmm... saya merasakan inilah tanggung jawab pertama kalian sebagai suami ; memilih secara tepat istri kalian. namun, saya juga menyadari bahwa kerja ini tidak berhenti sampai disini. kerja berikutnya yang tidak kalah penting adalah kerja pemeliharaan, penumbuhan, serta penyiapan. jadi, tanggung jawab kalian, sebagai suami, tidak berhenti sebatas memberi nafkah. ada peran lain yang harus dimainkan sejak dini, bahkan sejak sebelum kewajiban memberi nafkah ditetapkan.
Memelihara, menumbuhkan serta menyiapkan istri kalian untuk dapat menjadi seorang ibu dan guru bagi anak-anak harus mendapatkan prioritas. kalian tidak hanya memilih istri yang memiliki pesona potensi luar biasa. pesona potensi itu harus dapat kalian pelihara an kalian tumbuhkan agar tidak redup ditengah jalan, terlebih ketika telah menikah dengan kalian. suami perlu meningkatkan kapasitas dan kemampuan istri. agar ia memiliki bekal untuk menyukseskan perannya sebagai seorang pendidik.
Ada sebuah kisah inspiratif dari seorang ustadz. untuk meningkatkan kemampuan istrinya dalam mengurus keluarga, sang ustadz tanpa segan segan mengikutkan istrinya kursus membordir dan menyulam. ketika ditanya alasannya, ustadz itu menjawab :" saya takut seandainya nanti diakherat ditanya Allah : apa yang sudah kau lakukan untuk istrimu ?
begitulah kiranya kita mengawali pembentukan keluarga kita. mereka yang dirundung cinta semestinya memperhatikan pula tumbuh kembang buah cinta mereka nantinya. mereka tidak melupakan kerja kerja pewarisan dari sebuah keluarga muslim.
saya pernah mendapat kiriman sebuah sajak dari seorang ikhwan lewat email. sajak ini lukisan tentang pikiran nya terhadap seorang wanita yang nantinya akan menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.
Kasihku, Ibu dari anak anakku....
ajari mereka bersahabat dengan kehidupan
agar tak menjadi asing ditanah kelahiran
yang mafhum meminta dan menangisi dunia
tapi gagah bekerja dan membelai sesama
ajari anak-anak kita merabai dirinya
agar mereka merasakan kebesaran yang maha segala
bahwa mereka lahir untuk masa depan
dan untuk memuaskan kita
begitu pentingnya mempersiapkan tempat persemaian benih generasi kalian, sekaligus guru bagi anak-anak kalian, sampai sampai Rasulullah membenarkan pandangan Jabir bin Abdullah yang memilih seorang janda menjadi istrinya, hanya karena satu alasan : kerja - kerja pendidikan. ketika jabir mengabarkan kepada Rasulullah bahwa dirinya telah menikah, Rasul lalu bertanya kepadanya :
"jabir, kamu menikah dengan gadis atau janda ?"
"dengan seorang janda ya Rasulullah."
"kenapa tidak pilih yang masih gadis. dengannya kamu bisa mengajaknya bergurau, begitu pula ia bisa bergurau denganmu."
Jabir memiliki alasan yang perlu untuk kita renungkan. sebuah alasan yang inspiratif dan visioner, tetapi sekaligus realistis.
"Ya Rasulullah, orang tuaku telah meninggal, sedangkan aku memiliki banyak saudari yang masih kecil. itulah sebabnya , saya tidak memilih menikah dengan gadis, yang usianya seperti mereka. aku khawatir istriku tidak bisa mendidik mereka dan tidak bisa mengurus mereka. akhirnya, saya memilih menikahi seorang janda dengan berharap ia bisa mengurus dan mendidik saudari saudariku yang masih kecil.
saudaraku ... kaum muslimin , para calon suami, para calon ayah... persiapkan lah madrasah keluarga kalian sejak dini...didalam buaian seorang wanita bisa menghasilkan bara yang menguncang dunia.....
Bandung,
mentari itu telah bersinar...
tiada redup tiada panas
hanya ada seberkas kilatan
tuk buktikan
tuk hancurkan
peradaban yang tak berkias......
MELAHIRKAN merupakan momentum perjuangan yang tidak ringan bagi istri. Ia memeras energi, sekaligus memungkinkan untuk menggadaikan nyawa untuk sebuah generasi. Namun, ia juga menjadi titik awal ketika suami harus menambah perannya. Peran sebagai seorang ayah. Ayah, kata itu seakan menyimpan harapan yang menghujam sangat dalam pada diri kelaki-lakian. di balik kata itujuga, terdapat tanggung jawab yang besar.
kata itu menyuguhkan perasaan bangga dan bahagia, sekaligus meneguhkan kedirian kalian sebagai laki - laki. ia bagaikan padang sabana hijau yang membentang luas dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi. Menjadikan jiwa kalian para suami lapang dan pandangan kalian para suami tajam menatap masa depan. Saat itulah kalian harus mulai memikirkan masa depan sebuah generasi yang lahir dari rahim kekasih kalian. Kasih sayang, perhatian, tanggung jawab dan juga pendidikan bagi anak menjadi bahasa yang akan meneguhkan makna cinta kalian.
saat menjelang kelahiran adalah saat ketika kalian para suami perlu memperkuat dan menunjukkan makna kebersamaan dengan istri, karena ia merupakan momentum perjuangan yang tidak ringan. inilah awal ketika tanggung jawab terhadap sebuah generasi dimulai. tanggung jawab yang tidak sekedar dimiliki seorang istri. kebersamaan dalam cinta adalah bahasa yang selalu diharapkan dalam nafas pernikahan.
Menunggu istri saat persalinan bukanlah barang sederhana, yang bisa dinafikan. Sungguh, anak merupakan anugerah terindah yang diberikan Allah kepada kita. Ia menjadi harapan setiap orang yang telah menikah. tidak jarang tetes air mata harus mengalir membersamai setiap lantunan doa, agar Allah ta ala menganugerahi seorang anak. Itulah yang dapat kita rekam dari kehidupan Nabi Zakariya a.s. Usianya yang merangkak senja telah menumbuhkan uban dikepala, merapuhkan tulang - tulangnya, dan melemahkan tenaganya. Padahal, belum juga Allah menganugerahi anak kepadanya. kerinduan untuk memiliki seorang anak semakin menggelora.Maka, bersama kesunyian malam, Nabi Zakariya tiada henti untuk berdoa :" Ya Tuhanku, sesungguhnya tulang - tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku."
Karena anak merupakan anugerah dari Allah ta ala maka selayaknya kalian para suami perlu menyambutnya dengan penuh kesyukuran. kehadiran kalian untuk berdekat dekat dengan istri saat persalinan adalah penerimaan yang tulus, yang selayaknya kalian berikan. Penerimaan terhadap kelahiran anak kalian. anak yang lahir dari rahim kekasih kalian. inilah bahasa pengungkapan yang perlu di tunjukkan.
Tidak sekedar itu saja wahai suami membersamai istri saat persalinan ternyata membawa efek psikologis yang besar bagi istri kalian. dukungan suami saat bersalin sangat diperlukan agar istri bisa lebih kuat, nyaman dan percaya diri ketika bersalin. terlebih ketika istri merasa panik dan kesakitan. lalu apa efek yang bisa muncul bagi kalian para suami ? peristiwa kelahiran akan menanamkan perasaan untuk lebih menghargai dan menyayangi istri kalian. setiap detik dari perjuangannya terekam kuat dalam ingatan kalian para suami. pengorbanannya terasa tak ternilai oleh apapun yang kalian berikan kepadanya sebagai pengganti.
Sodaraku....
cinta harus dibahasakan. salah satunya dengan memberikan dukungan kepada istri saat bersalin. memberikan kata - kata motivasi, doa dan sentuhan fisik akan meredakan kepanikannya. disinilah seorang suami harus mampu mengendalikan emosinya. kalian para suami perlu belajar untuk kuat dan tidak menjadi lebih panik dibanding kekasih kalian. mungkin ada keharuan ketika menyaksikan istri yang sedang berjuang untuk melahirkan anak kalian, berpelu peluh dan menguras tenaga. mungkin ada rasa khawatir yang membuncah saat mengetahui istri berpayah payah , tapi tetap saja kalian harus belajar tenang.
Sodaraku.....
membersamai istri saat persalinan akan mengurangi depresi pasca persalinan (Post partum depression) atau baby blues. ada kalanya ibu sehabis melahirkan dilanda perasaan sedih dan murung. kelahiran menuntut ibu menyesuaikan diri dengan situasi baru. ia harus mengurus anak, serta harus tetap mengurus pekerjaan rumah tangga. semua itu akan menyita pikiran dan energinya, hingga dapat memicu emosi dan stres. terlebih ketika makna kebersamaan itu tidak terlihat diberikan suaminya sejak detik detik awal persalinan. Padahal, banyak penelitian menjelaskan bahwa depresi yang dialami ibu sangat mempengaruhi bayi.
saya kutipkan pendapat dari Dr. I Akman dari Marmara University Medical School, Istambul Turki dalam laporan hasil risetnya di Archives of Diseases in childhood (download) mei 2006, menyimpulkan bahwa depresi pada ibu yang baru melahirkan akan menghambat terjalinnya ikatan batin (bonding) yang kuat dengan bayinya. kondisi ini akan menyebabkan terjadinya kolik (Sejenis gangguan pencernaan).
Penjelasan dr. Akman diatas memberikan gambaran tidak langsung tentang peranan yang harus dimainkan seorang suami kepada istrinya saat menjalani persalinan, yaitu menciptakan rasa tenang dan aman bagi istri.
Penelitian lain nya dilakukan oleh Dr.Myna M.Wissman bersama timnya dari colombia university, New york. Ia meneliti selama 20 tahun dan menemukan bahwa depresi yang menimpa orang tua bisa menulari anak, bahkan hingga mereka dewasa kelak. 101 orang tua, ketika salah satu atau keduanya mengalami depresi, ternyata menyebabkan anak anak mereka beresiko menderita depresi tiga kali lipat dibanding anak anak yang orang tuanya tidak depresi. selain itu, mereka juga beresiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, serta beresiko dua kali lebih besar menderita gangguan fungsi otot dan saraf serta kesulitan dalam bersosialisasi.
*******
Subhanallah..... menunggui istri saat persalinan bukanlah barang sederhana, yang bisa diabaikan begitu saja. berawal dari kebersamaan itu, kalian tengah menyiapkan sebuah generasi yang kuat, tegar dan sehat. generasi yang menatap masa depannya dengan cerah, karena diawal ia menghirup udara segar dunia, ia disambut dengan penerimaan yang tulus.penerimaan yang menciptakan ikatan batin secara lekat. kalau ada kebersamaan antara suami istri yang memuat makna kepahlawanan lebih, mungkin ia adalah kebersamaan selama persalinan.
bandung......
diujung gelap kucoba urai kata demi kata
agar serunai malam tak lagi pekat
disela tangis manusia pemula
menyambut dunia yang kian fana.........
kekhawatiran terasa menekan bapak muda itu. Ia cemas jika periksa kali ini tidak bisa mencapai target berat badan bayi seperti yang seharusnya. ketika mereka telah mendapat giliran dan istri di USG , alhamdulillah, ternyata berat badan bayi telah naik seperti yang ditargetkan. hanya saja detak jantung bayi saat itu berpacu cepat.
"mbak, anti sedang panik, ya ?" tanya dokter . sang istri hanya mengulum senyum dan mengaku kalau ia cemas dengan berat badan bayi yang tidak naik.
"sudahlah santai saja, tidak usah dipikir. perhatikan saja asupan gizinya. InsyaAllah , waktunya masih cukup."
"kalau ibunya stress, biasanya detak jantung bayi menjadi lebih cepat. bayi terpengaruh menjadi stress juga." tambah dokter tersebut.
Saat itu saya berpikir keras , apa hubungan antara stress yang dialami sang ibu dengan bayi yang dikandungnya ? saya belum menemukan hubungannya secara jelas. sampai akhirnya saya membaca didalam surat Al-Hajj ; 2 saya tertegun. "Ingatlah pada hari ketika kamu melihat (guncangan itu) semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya..." kedahsyatan hari kiamat sanggup menggugurkan janin dalam rahim. akan tetapi kenapa bisa seperti itu ? panik. jika benar maka persoalannya adalah psikologis.
hmm... ketika saya bertemu dengan seorang teman yang istrinya baru saja keguguran, saya sampaikan ayat itu kepadanya.beberapa bulan sebelum keguguran, mereka berdua pernah jatuh dari motor. namun, setelah kasus itu, tidak ada plek atau pendarahan. biasa saja, setelah beberapa bulan kemudian istrinya keguguran. saya menduga penyebabnya adalah emosi si ibu." mungkin ada persoalan psikologis yang menyebabkan sebagaimana disebut Al Qur an, meski tidak semua begitu. kata saya
"bener ukhti, katanya sambil mengingat sesuatu. Beberapa hari sebelum istri keguguran kami bertengkar. Istri marah hebat dan ternyata sering begitu, bahkan, dia pernah mengatakan :" ya sudah digugurkan saja kandungan ini !"
situasi kejiwaan ibu ternyata sangat mempengaruhi kondisi bayi didalam rahim. kesimpulan itulah yang saya peroleh dari serangkaian pengalaman dan cerita dari teman2.
didalam sebuah artikel saya menemukan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan saya selama ini. artikel tersebut menjelaskan bahwa ada sejumlah hormon progesteron. hormon ini berfungsi membangun lapisan didinding rahim untuk menyangga plasenta, mencegah kontraksi atau pengerutan otot-otot rahim sehingga mencegah keguguran atau persalinan dini.
********
sebuah penelitian di jerman yang dilakukan perta Arck dan kawan kawan, ditemukan bahwa secara tidak langsung stress menekan prodiksi hormon progesteron. kesimpulan bahwa stres dapat menjadi penyebab keguguran setidaknya didapat dari hasil penelitian terhadap tikus. kalau pada tikus - tikus yang sedang hamil ini diberikan suara suara keras atau pemicu stres dalam bentuk lain, maka tikus tikus tadi akan mengalami ketidak stabilan hormon. ketidak stabilan inilah yang dapat mengubah sistem kekebalan pada janin karena disaat stress tubuh akan mengeluarkan hormon stress yang disebut kortisol.
Peningkatan kortisol dalam aliran darah akan menekan produksi progesteron. Arck dan kawan kawan telah memantau 864 wanita hamil. ia mengambil sampel darah untuk melihat tingkat stress masing masing wanita yang tengah berbadan dua itu. hasilnya, 55 wanita hamil yang mengalami keguguran ternyata lebih sering mengalami stres dibanding ibu hamil lainnya yang tidak begitu banyak menghadapi stres
hmmm... ternyata ada kerja cinta lainnya buat suami ketika istri sedang hamil, kerja untuk memberikan pendampingan prima kepadanya. pendampingan yang tidak sekedar fisik, tetapi juga kejiwaan. kerja pendampingan ini merupakan bagian dari proyek regenerasi. istri membutuhkan perhatian istimewa, dorongan dan motivasi tiada henti. sekaligus ketulusan utuh dalam seluruh kerja - kerja pendampingan itu.
kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa kondisi kejiwaan istri ketika hamil sangatlah mempengaruhi perkembangan janin didalam rahim. secara mengerikan, barangkali dapat dikatakan bahwa menciptakan rasa tenang istri sekaligus memberikan support motivasi kepadanya, ternyata terkait erat dengan urusan nyawa sebuah generasi ; generasi kita sendiri; anak anak kita, ia juga mempengaruhi kualitas emosi anak dan tingkat perkembanganya.
Anak adalah anugerah terindah dari Allah yang patut untuk disyukuri sekaligus dijaga. Allah mendatangkan kebahagiaan dengan lahirnya anak dari seorang istri. " Allah menjadikan bagimu istri - istri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri - istrimu itu, anak - anak dan cucu cucu ...." (Qs. An-Nahl; 72).
Sejak awal kita harus menjaganya, agar anak kita tiak tumbuh menjadi dzurruyyatun dhi aafan (generasi yang lemah) (QS. An-Nissa ; 9)
sembari kalian para suami memberikan pendampingan prima pada istri, topanglah ia dengan lantunan doa yang selalu terkirim bersama sujud kalian :" Rabbi habli minladunka dzurriyyatan thayyibatan, innaka samii ud du aa " (ya Rabbku, berilah aku disisi-Mu anak yang baik, sungguh Engkau Maha Pendengar doa) (Qs. Ali Imran ; 38)
aminnnn...
bandung......
disisi sudut ruang hati................
mari saudara saudaraku kita simak penuturan seorang suami yang mendampingi istrinya dikala hamil............
Istri saya terbaring lemas disamping ketika saya melaksanakan sholat. padangan mata saya mulai tidak jelas dan berkaca-kaca. dengan sekuat tenaga saya pejamkan mata, berharap ada yang bisa ditahan. tapi terlambat. bayangan ibu saya datang silih berganti. mengalir bersama air mata yang menetes dari sudut mata.
Wajah cantik istri saya yang mendadak berubah pucat berkelindan dengan wajah ibu saya yang mulai keriput, beruban dan tua. Saya teringat saat ibu saya berubah biru wajahnya, menahan sakit akibat maag akut yang dideritanya. saya membayangkan saat ibu saya,yang perempuan desa dan tidak mengenal konsultasi dokter spesialis kandungan itu, menghadapi kehamilan ketika mengandung saya....
saya mengenang diri saya yang jarang pulang, menyambangi ibu-ayah saya didesa . Dan saat inilah perasaan durhaka itu menyeruak hadir membayangi saya, saya takut. rasanya aktivitas saya dalam dakwah tidak memiliki bobot makna yang berarti tatkala mengenangi ibu. Sungguh, saya kembali merasakan kerinduan yang sangat pada ibu, ketika harus membersamai istri saya yang mengalami morning sickness.
hmmm.. mendengar cerita teman Saya jadi teringat pada perintah Allah ta’ala untuk berbuat baik kepada ibunya. Alasannya jelas, beliau yang telah mengandung dalam keadaan lemah, melahirkan dan menyusui :" Dan perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya ; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah - tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (QS.Luqman ;14)
selain perasaan itu lanjutnya terus terang saja, saya ikut dibuat panik dengan kehamilan pertama istri saya Istri mengalami tanda tanda kehamilan ketika usia pernikahan kami memasuki semester pertama. skami merasa bersyukur ketika istri melakukan test kehamilan yang hasilnya kami lihat bersama ; positif hamil. Dua garis merah dapat kami lihat dengan jelas pada pagi itu. Alhamdulillah. kami sama-sama bersyukur Lalu, beberapa hari kemudian, istri mengalami morning sickness.
Rasa mual dan muntah yang dirasakannya seakan saya rasakan juga. Aneh, dan saya tidak dapat menemukan akar sebabnya. lanjutnya. luar biasa. rasa itu tidak saja terjadi pada pagi hari, tetapi sepanjang waktu
hmm.. mungkin mengalami hiperemesis gravidarum (frekuensi dan lamanya mual muntah terjadi secara berlebihan) dan ini emang wajar terjadi pada trisemester awal kehamilan.
Ketika ditanya masalah itu jawaban sang istri :" Wonderfull, Mas !" hmmm........
lanjutnya...... saya putuskan untuk tidak i’tikaf, padahal kami sudah merencakan untuk itu. saya harus mendampingi istri, membantu kebutuhan nya dan (yang terpenting) memberi motivasi dan mengawal situasi kejiwaannya.
ya memang disaat seperti itu seorang istri sangat membutuhkan kehadiran suaminya disamping. karena pada saat saat itu sang istri membutuhan sentuhan cinta yang lebih, perhatian yang terakomodasi, dan pendamping yang intens.
sodara-sodaraku..... kenapa harus mendampingi istri ? selain gembira dan bersyukur atas terjadinya kehamilan, terselip juga rasa cemas terutama bagi ibu-ibu yang baru pertama kali hamil. ia harus menghadapi beberapa perubahan dalam dirinya. peran suami adalah membersamai istri untuk siap menghadapi kegelisahan secara psikologis. bukankah suami adalah orang terdekat yang dimiliki sang istri ?
Sejumlah penelitian, konon menjelaskan bahwa kurangnya dukungan dari suami selama kehamilan merupakan faktor yang paling sering menimbulkan post-partum blues atau kesedihan pasca persalinan. Ah, Wallahu a’lam (itu teori yang pernah saya baca)
hmm... jadi teringat kembali pada hadist Rasulullah :" sebaik -baik kamu adalah yang paling baik dalam bergaul dengan istrinya, dan aku adalah yang paling baik diantara kamu dalam bergaul dengan istri." (HR.Tirmidzi)
Mendampingi istri, jika dilakukan secara ikhlas, insya Allah, jauh lebih ringan daripada keadaan istri kita ketika hamil. dimana, setiap istri merasa mual muntah, yang katanya sangat wonderfull itu, ia akan merintih kesakitan. maka untuk para suami, dekatilah istri kalian, usaplah perutnya. mungkin emang tidak banyak membantu untuk mengurangi rasa mual itu, tapi dari sisi psikologis menimbulkan motivasi bagi sang istri tuk tegar dan sabar menjalani masa - masa itu karena sang istri tidak sendiri merasakannya ada kalian suaminya menemani disampingnya. membersamai masa itu. membersamai kehadiran buah hati yang dinanti... bersama sama....
ucapkan kalimat kalimat dan kata kata santun tuk meredahkan emosi sang istri ketika sakit mulai terasa. misalnya nih.... hmmmm..... "Sayang, daripada mengaduh lebih baik ucapkan kalimat thayyibbah. mungkin akan lebih baik bagi perkembangan psikologis janin kita ." subhanallah.... dengan sedikit perkataan itu insya Allah sang istri akan merasakan manisnya sebuah proses kehamilan.... menikmati saat saat sakit pada trisemester pertama, menikmati dan merasakan perkembangan janin, mulai dari detak jantung, gerakan gerakan kecil sampai pada tahap komunikasi 2 arah antara janin dan orang tuanya. melalui sentuhan sentuhan dan ucapan ucapan lembut. masa masa kehamilan adalah masa dimana kita bertafakur akan karunia dan kebesaran sang Illahi. juga merupakan masa masa muhasabah mengenang kembali saat saat ibu kita mengandung kita , menahan sakit ketika melahirkan kita.... subhanallah.. disaat saat itu banyak yang bisa kita petik dan rasakan. insya Allah............
jadi teringat sepenggal sajak dari WS Rendra berjudul Sajak seorang Tua untuk istrinya.
Suka dan duka kita bukanlah istimewa...
karena setiap orang mengalaminya.....
ya .. setiap pasangan suami istri pasti mengalaminya.... tinggal sekarang gimana tiap pasangan memaknainya.
ya.. saat saat kehamilan istri adalah masa ketika para suami belajar merasakan hakikat diri sebagai seorang anak dan suami sekaligus.....
untuk para suami.... persiapan diri.... dampingin istri.. jadilah suami SIAGA........ oke.. oke....
bandung, .....................
coretan kecil disudut ruang dari seorang hamba Allah yang baru belajar tuk memberikan yang terbaik dari sedikit goresan pena yang terbuang.....
Pernah dengar kisah ini gaaaaaa....???? jika belum saya akan mengisahkan untuk teman teman. Glenn Doman pernah bercerita tentang seorang ibu yang bertanya kepada ahli perkembangan anak. pertanyaannya sederhana, yaitu kapan ia harus mulai mendidik anaknya.
"kira - kira kapan anak ibu akan lahir ? ahli itu bertanya dengan antusias.
"Oh, anak saya telah berusia lima tahun sekarang," jawab ibu itu
"cepatlah pulang, bu !"
"kenapa ?" tanya si ibu dengan penuh keheranan
"ibu telah menyia - nyiakan lima tahun terbaik dari hidup anak ibu."
hmmm.... kisah diatas sedekar potongan peristiwa tentang urgensi pendidik anak sejak dini, bahkan menurut saya sejak bayi, yang tidak boleh diabaikan kedua orang tuanya. Wallahu a alam.
ketika menceritakan semua ini kepada seorang teman yang saat ini sedang menanti kehadiran sang buah hati, dia berkomentar.... tiba tiba perasaan untuk menyiapkan kematangan anak muncul begitu saja ketika dia harus mendampingi istrinya, saat hamil pertama. memang, saat ini usia kehamilan istrinya belum seberapa baru memasuki trisemester pertama, kurang lebih baru enam minggu. masa ini merupakan masa organogenesis atau pembentukan organ bayi.
Keinginan untuk menyiapkan kematangan bayi, sekaligus mengawal perkembangan organnya, muncul tatkala istri mengalami hiperemesis gravidarum (mual muntah terjadi secara berlebihan). Istri selalu mengeluh merasakan mual muntah. tidak sekedar itu, ia juga menjadi malas untuk makan. Dalam situasi seperti itu, saya jadi berpikir, istri harus didampingi. harus ada suport motivasi dan dukungan psikologis. Mungkin ini pekerjaan semua lelaki pada awal-awal kehamilan istrinya; menjadi suami untuk istrinya dan belajar sebagai ayah untuk (calon) bayinya.
emesis gravidarum atau mual muntah yang secara natural dialami istri saat hamil, seakan menjadi wasilah (sarana) pembelajaran bagi para suami. ia menyebabkan terjadinya dua keadaan sekaligus, yaitu kegelisahan psikologis dan kelemahan fisik. kegelisahan psikologis sering muncul dalam kalimat kalimat negatif, seperti keluhan, marah, atau letupan letupan emosional. sementara itu, kelemahan fisik muncul akibat berkurangnya nafsu makan istri. akibat lebih jauh, sebenarnya adalah terbatasnya asupan gizi bagi janin. kondisi seperti ini jelas akan berakibat bagi perkembangan janin. Wallahu a alam.
saat seperti inilah, para suami merasakan kemuliaan islam untuk menjaga kehidupan anak. kesadaran inilah yang akhirnya para suami temukan sepanjang menyaksikan perkembangan istri. Subhanallah, dalam banyak tempat islam menegaskan persoalan ini.
"Sesungguhnya rugilah orang - orang yang membunuh anak - anak mereka karena kebodohan tanpa pengetahuan....... (QS. Al-An am ; 140). atau seperti diperingatkan Allah ta ala dalam firman-Nya :" Hendaklah takut kepada Allah, orang - orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak - anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar." (QS An-Nisa;9)
begitu jelas Alquran men-tarbiyah kita agar tidak meninggalkan dzurriyyatan dhi aafan (generasi yang lemah). Sebuah kesadaran tentang pendidikan anak sejak dini yang luar biasa. artinya, secara psikologis dan fisiologis penyiapan perkembangan janin harus mendapat perhatian.
Melalui istri, para suami sedang ditarbiyah untuk menjadi suami yang lebih dekat dengannya, sekaligus sebagai ayah yang memperhatikan perkembangan janin. ketika Al-quran mengatakan agar orang tua bertakwa (falyattaqullaha), itu artinya calon orang tua harus menyiapkan kematangan spiritualitas secara prima. sementara itu, ketika Al-quran menganjurkan para orang tua untuk mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadida), para suami tersadar untuk menasehati istri agar tidak banyak mengeluh dan mengganti keluhan - keluhan itu dengan kalimat - kalimat thayyibah. tentunya, nasehat itu juga ditujukan untuk para suami. dalam hal inilah, peran pendampingan terhadap istri menemukan titik temunya. Wallahu a lam.
"saya hanya berpikir agar anak kami nantinya tidak menjadi pribadi yang cengeng yang suka mengeluh, karena sejak dalam kandungan, kami orang tuanya mengajarinya untuk itu. saya juga tidak menghendaki anak saya hidup dengan menihilkan ketulusan dan keikhlasan, karena ayahnya juga melakukan hal yang sama ; menjagai ibunya dengan perasaan tertekan dan penuh beban. Saya tidak memimpikan anak saya menjadi reaksioner dan mudah marah, karena kami ajari dia sejak dalam rahim perkataan -perkataan emosional dan sarat kemungkaran." demikian ungkap teman saya.... hmmmm....
sungguh, para suami sedang diajari dan dipersiapkan untuk menjadi AYAH. sebutan yang sekaligus mengandung sejumlah makna ; cinta dan tanggung jawab, kasih sayang dan pengorbanan, perhatian dan ketulusan, yang selama ini hanya para suami lontarkan melalui lisan kepada istri, kini para suami harus belajar untuk membuktikannya.... (hayo.. hayo.. para suami buktikannnnn.... )
pada saat seperti inilah, para suami mengharapkan intervensi dari kekuasaan Allah ta�ala yang tiada terbatas dan bersekat. sebagaimana Nabi Ibrahim as berdoa :" ya Rabb, aku memohon agar keturunanku senantiasa mendirikan shalat, agar mereka dicintai dan agar mereka diberi rezeki yang halal, mudah mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim ; 37) . Allahumma amiin.
(read more ...)Wanita itu terlihat gelisah. sesekali pandangan matanya menyapu seluruh ruangan. hanya beberapa detik saja ia telah fokus kembali pada suaminya. wajah suaminya masih menyiratkan jenak - jenak kelelahan. Wajah itu terasa menyurutkan niatnya untuk bicara pada sang suami. ia mencoba menahan. Sejenak ia menghela nafas. Namun, dorongan untuk bicara terus mengusiknya.
"Mas, kapan punya waktu," katanya. "saya mau bicara"
Sang suami terdiam. wajahnya lesu memandang istrinya yang sedang menimang buah hati mereka.
Wanita itu kembali bicara,"mas, masa saya ngomong dengan bayi terus. sayakan bukan bayi. bukan anak-anak."
***********
Terdapat Rahasia cinta yang terkuak dari kisah nyata diatas. Rahasia tentang kebutuhan cinta, kebutuhan jiwa dari kekasih kita. kebutuhan untuk diperhatikan dan didengarkan. ia tidak sekedar hubungan formal yang legal antara seorang pria dan wanita.......
Pernikahan merupakan kerja panjang untuk merasakan kebutuhan jiwa pasangan kalian. sayangnya, rutinitas kerja dan aktivitas diluar rumah telah menyita sebagian besar perhatian kalian akan kebutuhan kebutuhan jiwa kekasih kalian. kalian cenderung menangkap gerak fisik dari penampilannya. kalian hanya membaca wajah fatamorgananya. wajah yang disembunyikan dari kenyataan. pesona fisik yang ditampilkan untuk membahagiakan kalian, karena kami para istri sadar terhadap pilihan yang harus dilakukan didepan suami yang kelelahan. kami memilih mengalah untuk tidak merasakah kelelahan atau paling tidak menahan diri dari segenap keluhan dihadapan kalian para suami. namun, semua pekerjaan itu adalah olahan fisik.
Lubuk jiwa kami yang paling dalam terdapat kebutuhan yang harus dipenuhi. kebutuhan jiwa yang dahaga, yang membutuhkan sepotong waktu yang dimiliki kalian para suami untuk diberikan kepada kami. waktu yang tidak sekedar putaran jarum jam, tetapi waktu yang bermakna perhatian terhadap cinta keduanya. Sepotong waktu itu adalah bagian dari kemakrufan, seperti yang dijelaskan Allah ta ala :" Bergaullah dengan mereka secara makruf" (QS.An-Nisaa;19) . Termasuk dalam kategori ini adalah kemampuan untuk memberikan perhatian istimewa, mendengarkan secara aktif, membangun suasana romantis dan menciptakan canda canda segar.
sodaraku..... Banyak dari kalangan kalian para suami sanggup memberikan nafkah kepada kami istri - istri, tetapi memiliki kelemahan dalam mendengarkan isi hati kami sebagai istri. beberapa dari kalian para suami beranggapan bahwa perhatian yang harus diberikan hanyalah memberi setumpuk nafkah kepada kami. kalian kurang memberikan sepotong waktu yang dimiliki kepada kami untuk mencurahkan perasaan hati kami. padahal, ia merupakan kebutuhan jiwa yang harus segera dipenuhi. Kebutuhan untuk mengobrol dan menyampaikan harapan harapan yang selama ini terpendam dan belum pernah terungkapkan sama sekali.Dalam kondisi yang masih dapat ditahan oleh istri, semua hanya menjadi derita jiwa diri kami sendiri.
Sodaraku para suami, ingatlah ketika kebutuhan jiwa itu mencapai puncaknya, keinginan mencurahkan hatinya tidak terakomodasi dengan baik, ia akan menjelma menjadi ledakan emosi yang sangat dahsyat. efek yang dapat ditimbulkan adalah pelarian. Istri kalian akan mencari tambatan kepada orang lain; mungkin tetangga, ustadz atau ustadzah, orang tua, teman dekat, atau siapa saja yang mampu memenuhi dahaga jiwanya. kepada mereka kemungkinan besar istri akan menumpahkan seluruh harapan jiwanya.
Jika kondisi ini yang terjadi, bisa jadi orang lain akan lebih mengetahui perasaan istri kalian daripada kalian sendiri sebagai suaminya. Aneh, orang yang paling dekat ternyata menjadi sosok yang teramat jauh. kalian dekat sekedar dalam hubungan formalitas fisik. ingatlah para suami Saat itulah makna pernikahan yang memadukan dua jiwa menjadi terkikis secara perlahan.
sodaraku... para suami..... itulah kebutuhan jiwa seorang istri. kebutuhan untuk mendapatkan kelegaan hati. kami hanya butuh didengarkan. kami tidak membutuhkan solusi. kami hanya membutuhkan ruang untuk bercerita, membutuhkan waktu untuk bersama kalian.
sodaraku..... Disinilah kita menemukan makna yang dalam dan luas dari ungkapan Rasulullah Saw" sebaik baik kamu adalah yang paling baik dalam bergaul dengan istrinya, dan aku adalah yang paling baik diantara kamu dalam bergaul dengan istri." (HR.Bukhari). Rasulullah sangat mengapresias para suami yang memberikan perhatian lebih kepada istrinya.
Apresiasi Rasulullah tersebut memberikan dorongan kepada kalian para suami agar memiliki kemampuan untuk bisa mendengar dan merespon perasaan hati istri kalian. kalian para Suami harus mengawali untuk menciptakan suasana keterbukaan. kalian para Suami mendahului untuk membuka komunikasi sebelum istri memintanya.
John Gray dalam Mars and Venus Together Forever memberikan penjelasan menarik." perlulah menjadwalkan kesempatan kesempatan istimewa. seorang pria perlu mengingat bahwa seorang wanita cenderung merasakan beratnya tanggung jawab rumah tangga dan merasa sulit untuk meluangkan waktu bagi diri mereka sendiri. kalau seorang suami menciptakan saat saat istimewa ketika istrinya dapat lepas dari kerutinan, si istri bebas untuk merasa dikembangkan dan dipupuk.
Sodaraku... sekali lagi, kalian para suami hendaklah memiliki inisiatif untuk menciptakan saat saat istimewa, ketika seorang istri memiliki kesempatan lapang untuk menceritakan seluruh isi hatinya, mengungkapkan gejolak perasaannya. Suami memberikan waktu untuk semua itu. setelahnya, kalian harus memiliki kemampuan untuk mendengarkan secara aktif. Agar istri kalian merasa mendapat perhatian lebih dari kekasihnya dari kalian, sekaligus dipenuhi kebutuhan jiwanya disamping kebutuhan fisiknya. Dalam hal ini, kalian dapat belajar bahwa kecendrungan wanita pada umumnya sangat menghargai komunikasi dan suasana yang menyertainya. Dunia yang kadangkala kalian lupakan dan abaikan, bukan sekedar karena kalian laki laki tetapi karena kalian jarang berusaha memasuki dunianya ; dunia kekasih kalian ; dunia istri kalian ; dunia para wanita .........
***untuk para suami .... cobalah tuk mengerti dan memahami satu ruang kosong dihati istri kalian. istri kalian tidak mengharapkan harta kalian tapi mereka butuh sisakan sedikit waktu kalian buat mereka agar mereka bisa merasakan kebersamaan yang pernah ada dan tercipta dalam pernikahan.
Tak sekedar dengan cinta kita menjalani pernik pernik kehidupan rumah tangga. kita membutuhkan penyokong lain, yaitu iman dan ketakwaan. Cinta akan memberikan warna lebih indah terhadap kehidupan keluarga, sementara uman dan ketakwaan meneguhkannya hingga kokoh. keimanan dan ketakwaan yang dimiliki oleh para kekasih akan melahirkan sikap tanggung jawab.
Tanggung jawab akan memerankan tugas utamanya ketika sepasang kekasih berada dalam tarik ulur yang kuat antar cinta dan benci. saat itulah para kekasih membutuhkan mata air iman.keimanan mematangkan mentalitas seseorang. ia tidak memandang bahwa pernikahan sekedar urusan cinta dan benci. lebih dari sekedar itu, ia memiliki kesadaran bahwa ada tanggung jawab yang harus ditegakkan. kesadaran ini tidak berarti bahwa kehidupan pernikahan didayung secara mekanik. itulah sebabnya, antara cinta dan iman harus berjalan saling berkelindan.
Dalam persoalan inilah kita dapat memahami jawab Al-Hasan Al-Bashri , ketika ia ditanya oleh seseorang :" ada dua orang yang melamar putriku, siapa yang harus aku terima ?"
"Terimalah yang paling baik agamanya, karena jika ia cinta kepada istrinya, pasti ia akan merawat dan menghormatinya; sedangkan jika ia benci kepada istrinya, ia tidak akan menganiayanya."
Begitulah iman dan takwa melahirkan tanggung jawab. keimanan menjadi benteng paling kokoh agar kebencian terhadap istri, karena sebab tertentu, berubah menjadi kerja pengembangan. kerja pengembangan akan mengurangi dorongan untuk berharap diluar kesanggupan istri, yang jika tidak terkendali akan menyisakan kekecewaan berkepanjangan.
Selain kerja pengembangan, sesungguhnya iman dan takwa akan membentengi diri kita dengan kesabaran. kesabaran adalah daya tahan kita untuk mengokohkan cinta dari gempuran gelombang kehidupan dan ketidakterimaan kita kepadanya." Bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena boleh jadi kamu tidak senang terhadap mereka, padahal Allah menjadikan dibalik itu kebajikan yang banyak." (QS. 4;19) begitupula ketika kita memahami firman Allah ta ala :" Mungkin saja engkau membenci sesuatu padahal ia lebih baik bagimu." (QS. 2 ;216)
hmmm...... jadi teringat dengan satu kisah. Imam Ibnu Jauzy dalam bukunya Shaidul Khathir pernah menceritakan kisah Abu Utsman an-Naisaburi yang ditanya oleh seseorang, pertanyaan menggelitik tentang harapan Abu Utsman :" Apa yang paling anda harapkan dari amal anda ? " Abu Utsman terdiam beberapa saat. lalau ia mulai bertutur.
"Pada saat aku masih muda, keluargaku berusaha menikahkanku. Akan tetapi aku tidak bersedia. suatu saat ada seorang wanita yang datang kepadaku dan berkata :" Wahai Abu Utsman, sungguh aku sangat mencintaimu. Sudilah kiranya engkau menikahiku." wanita itu menghadirkan ayahnya yang sangat miskin. Akupun dinikahkan dengan wanita itu. Nah, ketika aku berkumpul dengannya dalam satu kamar, ternyata ia pincang dan sangat buruk."
"karena kecintaannya kepadaku," Kata Abu Utsman melanjutkan, " Ia melarangku keluar rumah. Aku terpaksa duduk didalam rumah untuk menjaga hatinya. Aku sama sekali tidak menampakkan kemarahan kepadanya, padahal aku seperti diatas bara. sungguh. Demikianlah kejadian itu berlangsung selama lima belas tahun hingga ia meninggal."
Begitulah ketika takwa menghiasi kehidupan keluarga. kebencian yang membara terpinggirkan oleh sabar dan tanggung jawab terhadap janji. Bahasa Takwa itu terpancar dari ungkapan Abu Utsman," tidak ada amal yang kuharapkan, kecuali menjaga hatinya agar tidak terluka." ......
Sabar dan tanggung jawab yang melekat dalam diri karena takwa, membersamai cinta ketika kita menyemai kebersamaan bersama kekasih. inilah yang menjadi pertimbangan Umar bin Khathab ketika salah seorang laki laki datang kepadanya. Ia datang, dengan keluhan tentang istrinya. Lelaki itu mengatakan bahwa cintanya kepada istrinya telah memudar. oleh karena itu, ia bermaksud menceraikannya.
"Sungguh jelek niatmu." kata Umar. " Apakah semua rumah tangga (hanya dapat) terbina dengan cinta ? dimana takwamu dan janjimu kepada Allah ? dimana rasa malumu kepada-Nya ? bukankah kamu sebagai sepasang suami-istri, telah saling bercampur (menyampaikan rahasia) dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat ?"
menjaga ketakwaan dalam diri ternyata menjadi investasi untuk mempertahankan cinta, merawat dan menumbuhkannya. Taman ketakwaan harus senantiasa dihidupkan dalam sanubari keluarga. Langkah paling umum yang biasa dilakukan adalah dengan menggiatkan beribadah kepada Allah ta ala.
Keluarga dengan taman ketakwaan kering, biasanya terlalu rapuh untuk menghadapi permasalahan hidup. Sekecil apapun ia, jika ia dihadapi tanpa perisai takwa, permasalahan itu seakan sebagai karang yang teramat besar dan kokoh. kebencian, kemarahan, emosi yang meledak, kecurigaan yang berlebihan, dan karakter karakter lain akan cepat mendominasi kita, jika takwa tidak melekat dalam diri. Ketika karakter - karakter itu lebih dominan daripada iman, kondisi itu menjadi pertanda dini keretakan keluarga.
(Subhanallah.... membaca sedikit dari kisah Abu Utsman tersebut.... menggetarkan hati ini. bisakah kita seperti beliau ? wahai para suami... bisakah kalian seperti itu ? disaat kalian melihat kekurangan istri kalian, kalian sabar dan ridha terhadap kekurangan itu ? membantunya untuk melihat sisi lebih seorang istri yang dapat membuat bangga suami ? bukan malah menghinanya atau bahkan meninggalkannya karena kekurangannya...... juga para istri bisakah kita bersikap sabar dalam menghadapi kekurangan suami.... ? mendukung jihadnya ketika keletihan itu mendera... menyemangatinya ketika merasa diri lemah dan tak berharga..... wahai mujahid dan mujahidah Allah.... jadikanlah sabar dan ikhlas , iman dan takwa sebagai senjata utama kita menghadapi segala kekurangan dan kelebihan pasangan kita menuju pada ridha Allah)... insya Allah.....
Kata - kata Umar seakan menggema kembali . " APAKAH SEMUA RUMAH TANGGA (HANYA DAPAT) TERBINA DENGAN CINTA ? DIMANA TAKWAMU DAN JANJIMU KEPADA ALLAH ?"
hmmmm..... ya kita emank harus segera berbenah.............
(read more ...)
Dalam sebuah diskusi panel terbatas yang menyertai bedah Buku Mars and Venus Together Forever karya John Gray,Ph.D, banyak berbicara persoalan komunikasi dalam keluarga. ketika muncul pertanyaan : sudahkah kalian (para suami) terbiasa mengucapkan kata cinta di hadapan istri ? jawaban hampir sebagian besar peserta adalah belum, untuk tidak mengatakan tidak. hmmm.... mereka menyatakan bahwa terlalu berat mengungkapkan kata " CINTA" pada istri istri mereka......
"Kita harus membiasakan. sebab, istri kita sangat perhatian pada proses komunikasi," Kata seorang ustadz. Memang, kebanyakan orang membangun hubungan suami-istri lebih banyak bersikap mekanik. teman saya lalu angkat bicara," Tidak sekedar terbiasa mengungkapkan kata cinta, tetapi juga pandai melempar humor humor segar." ..... hmmm... saya berpikir... humor - humor segar ? sangat jarang.... karena mereka terbelenggu oleh rutininas kerja.... hummmm.....
Humor ? ya, humor. mengungkapkan cinta jelas kita perlukan, tetapi menghiasi rasa cinta dan sayang kita pada istri dengan humor humor segar akan menciptakan suasana rumah tangga kita lebih teduh. seringkali persoalan ini terabaikan, sebagaimana terabaikannya ekspresi untuk mengungkapkan cinta pada suami atau istri kita. bukankah tabiat jiwa selalu ingin istirahat dari kepenatan - kepenatan. berhenti sejenak, menurut Ustadz Abu Ridha, dan salah satu yang dapat dilakukan pasangan suami istri adalah melempar humor humor renyah.... ups.. asal jangan saling lempar piring ....
Kehidupan keluarga, yang tidak mungkin absen dari masalah, menghajatkan kita untuk menghiasinya dengan sedikit jeda berupa gurauan segar. dalam batas - batas tertentu gurauan atau humor merupakan harapan - harapan emosional. tekanan tekanan hidup yang tidak diberi ruang jeda untuk beristirahat sejenak, akan menimbulkan beban berkepanjangan. yang akan berakibat lebih fatal pada kemudian hari....
saya jadi teringat pesan Ali ra :" sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana badan pun bisa bosan (letih), maka carikanlah untuknya hiburan yang mengandung hikmah." lebih lanjut Ali menambahkan ," senangkanlah hati sebentar, sebentar, karena hati itu kalau dipaksa bisa menjadi buta."
Dr. Yusuf Qaradhawi pernah memaparkan kehidupan sekilas Rasulullah bersama keluarga dalam Hadyu Islam fatawi Mu ashirah. Apabila berada dirumah, beliau suka bersenda gurau dengan istri - istri beliau, serta mendengarkan mereka bercerita. ada banyak kisah - kisah menarik tentang kebiasaan humor Rasulullah saw.
Aisyah bercerita , Rasulullah saw dan Saudah binti Zum ah berada disisiku, lalu aku buatkan harirah (tepung yang dimasak dengan susu atau lemak) dan aku hidangkan untuk beliau. lalu aku hidangkan untuk Saudah," Makanlah !"
"Aku tidak suka," kata saudah, menolak
"kau harus makan atau aku lumurkan ke mukamu!"
"aku benar-benar tidak suka." lagi lagi saudah menolak tawaranku. Lalu , aku mengambil sedikit kue dari pinggan, lantas kuoleskan kemukanya. saat itu, Rasulullah saw merendahkan kedua lututnya kepada Saudah agar ia dapat mendekat kepadaku. setelah itu (dengan cepat), Saudah mengambil kue dari pinggan dan mengoleskannya ke mukaku. melihat semua itu Rasulullah hanya tertawa.
Subhanallah... kita tengah memotret sepotong kehidupan seorang suami yang kita jadikan uswah, ternyata menghiasi rumah tangganya dengan gurau - gurau yang segar yang meneduhkan jiwa para penghuninya. Lelaki itu menjadikan rumahnya tidak sekedar tempat berteduh fisiknya, tetapi sekaligus menciptakan ruang peristirahatan bagi kelelahan jiwanya, setelah (mungkin) seharian penuh memikirkan pekerjaannya : memikirkan umatnya.
Dari fragmen kehidupan Rasulullah dan kisah sehari hari yang sering saya temui dalam kehidupan berkeluara, saya berpikir bahwa senda gurai dalam rumah tangga ternyata diperlukan. ia menjadi terminal tempat kita mengistirahatkan pikiran kita dari kepenatan hidup.....
Ada beberapa suami yang mengelola kehidupan rumah tangganya dengan menegasikan humor - humor segar. Ia tidak terbiasa untuk mengekspresikan kalimat cinta kepada sang istri , apalagi membangun humor. yang ada adalah keseriusan bersanding dengan ketegangan. yang dibiasakan adalah kalimat2 imperatif kepada sang istri. mereka memecahkan persoalan hidup dengan dahi berkerut kerut. akibatnya ketegangan-ketegangan tersebut melahirkan potongan jiwa yang sensitif, menutup pertimbangan rasional dan sentuhan sentuhan kemanusiaan. Begitukah Rasulullah menakhkodai rumah tangganya ?
saya sedikit cuplikan cerita dan obrolan seorang aktivis dan penulis.. beliau bercerita ........
Suatu saat teman saya memanggil istrinya : " dinda , coba sini !"
"ada apa, kanda ? tanyanya balik ...... lalu aku (sang suami) dekatkan wajahku ketelinganya dan aku bisikkan :" Aku mencintaimu..." ada rasa sedih menyelimuti hati ketika mendengar ceritanya ....
terus sang suami kembali ke posisi semula. sang suami memandangi wajah sang istri yang memerah . matanya berkedip seperti boneka, diikuti oleh bibirnya yang dimanyunkan...
"Huh, bohong !" (hmm... aku tau dia tidak mengatakan itu sebagai kesungguhan , tetapi sekedar ekspresi bahagia dan bermanja, atau minta penegasan ulang, saya tahu, tetapi saya ingin situasi lain... ) lalu dengan tersenyum saya katakan padanya.
"Lho, kok kamu tau ?" istrinya terbelalak. dan mereka tertawa bersama........
sebagai seorang suami, yang ingin terus belajar, kami merasa teramat bahagia ketika istrinya bisa mengekspresikan kebahagiaan secara lepas. tanpa tekanan sama sekali. secara terus terang kami katakan kepada istri bahwa saya berharap keluarga kami menjadi keluarga periang dan tidak penuh dengan ketegangan emosi yang kami ciptakan sendiri. sebab, kami menyakini bahwa ia sangat bermanfaat bagi hubungan hubungan kami berikutnya, termasuk juga bagi janin yang sedang dikandung istri saya, ibu dari anak-anakku kelak. ungkap beliau.
nah.. ini kisah lain lagi tapi masih tentang keluarga sang aktivis dan penulis diatas....
suatu hari secara iseng kami berbincang bincang persoalan poligami. pembicaraan yang tidak terlalu menarik bagi kebanyakan wanita. dengan perseloroh saya memancing istri saya. " bagaimana ?"
"Boleh. Saya mengizinkan kanda menikah lagi." jawabnya ....
saya sedikit kaget, " tapi, ada syaratnya, : katanya , menambahkan...
"apa ?"
" Mudah. syaratnya kanda harus memenuhi 3 (tiga) L." saya dibuatnya bertanya tanya . apa yang dimaksud istri saya.
" L yang pertama, calon istri harus (L)ebih muda dari saya. " dengan bercanda saya katakan, Wah memenuhi harapan dan nafsu....
"L yang kedua, ida harus (L)ebih cantik dari saya." syarat yang menyenangkan. kata saya." Lalu ,. yang ketiga ?"
"L yang ketiga," istri saya berhenti. menghela nafas sejenak, lalu berkata : " (L)angkahi dulu mayatku!" saya tertawa dan saya perhatikan istri saya menyunggingkan senyum.
hmm... jadi teringat kata kata Abu Darda Radhiyallahu anhu " Sesungguhnya aku mengharmoniskan hatiku dengan sedikit hiburan agar ia lebih kuat terhadap kebenaran."
jadi.. hayo para suami jangan takut lagi tuk mengucapkan "AKU MENCINTAIMU " kepada istri-istri dan kelola canda yang menyegarkan rumah tangga kaliannn... hayo hayo... semangaaattt... buat istri selalu tersenyum asal jangan senyum senyum sendiri.....apalagi sampai ketawa sendiri .... hmmm



